The Tradition Repeats :D
Ok, so here’s the list of the ones who greeted me happy birthday, regardless of their time (be it early or late)
Retno Pudjiati
Randyansyah Rachmanalan
Novrita Ivanna
Ray Shaita Dessy
Anastasia Puspita Ayu
Galih Putra Pangersana
Ilham Rachmadi
Fakhri Aziz Humaidi
Marita Kurniasari
Bobby Reza Pratama
Woka Aditama
Ayu Ambarwati
Erlin Florence
Reyhan Fahreza
Daffi D Raven
Greaty Fitraharani
Eriska Eklezia
Diana Didi
Faizal Januar Ramdhoni
Indira Meirani
Edo Kurniawan
Wulan Andriany Putri
Devita Febry Andini
Restu Surya
Yanti Silviana
Risvianty Irsyani Natasya
Franky Sutanto
Meygelhard Geovery
Lily Winata
Gita Zhahara
Faizal Amri Permana
Nur Wulan
Rico Sumitomo
Ivana Permatasari Halim
Nadia Vetta Hamid
Ajeng Miranti
Michael Jefry Toruan
Gery Natawijaya
Imanuel Sukrisna Rogahang
Praharsh Agarwal
Muhammad Fadhli Primo
Cheryl Nazik Cosslett
Muhammad Izma Imansyah
Willy Setiawan
Agnes Cen
Elisabeth Media Dewi Saraswati
Muhammad Rey Dwi Pangestu
Dina Hidayana
Assa Kartika Prihabsari
Nadia Karisma Izzaty
Nabila Laras Satwikawati
Veriliani Windiasari
Erwin Ginandjar
Putri Aulia
Gita Latifah Serviyanti
Metra Indri Naibaho
Dayu Primar
Rezha Satria
Renatha Gloria Sudyat
Luthfiana Supangkat
Fadilah Nurarini
Eka Satya Nugraha
AnggaNandas GayaneCadas MaenDamdas
Michiru Uchiha
Dede Kurnia Sanjaya
Catur ‘Chiko’ Akilla
Hana Eka
Bayu Rizky Putra Adhitama
Mohamad Melardi Putrohadi
Dian Eka Novita
Andina Sonia Kusmana
Deniary Lusiana
Bernhard Ruben Fritz Sumigar
Teesya Chairunnisa
Cathalina Leofry Lessy
Andreas As
Austin Iglesias Saragih
Raden Gahara Primasantana
@tanita_dr
@kichouw
@ranichd
@cha_carrisa
@jamalbaziad
@HatifS
@Riandi27
@nurulrr
@atitfufufu
@kecapedas
@isanhanafi
@nisrinathif
@milamilao
@RaraKeynes
@anandasmd
@Chaiynaavt
@zulfiprayogo
@mayangmky
@vetoanggita
@federikar
@elicabed
@alvidianii
@maulidnda
@fanimanagam
@iratsac
@amellindaa
@raerinpark
@alviiii
@betarai
@oh_so_ully
@agnify
@annetells
@viddynaufal
@icamumtaza
@Annisapusz
@iconcon
@aisyahsiregar
@Laras_Aas
@inamassijaya
@wintyaww
@sauqibima
@chiefwright
@salmast
@achaachaaa
@ones_hs
@noviarynt
@adithegun
@RifanaMeika
@brianwok
@indramoetadji
@fikrihanifan
@majmaalbhrn
@ayuaaaa
@melaaSy
@chilashila
@vous_manquez
@adliahft
@salsaaxyz
@_Nezar
@vaniairnanda
@rhnf
@tupaikidal
@Dika_Simatupang
@xsam29
@gustirmdhn
@adarahmah
@adinugrahafanto
@deeolaola
@reyDP
@risvim
@amalia_citra5
@wahyusetyobudhi
@Dea_Aina
@achyntiaTEXT
Oei Kwang Lan
Annisa Lalitya Mumtaza
Jessica Patricia Tanjung
Haifa Amirasari
Budiasti Wulansari
Harry Josia Tambunan
Nida’an Khofiya Arfanni
Riska Setiawati
Prudence Lucianus
Angie Ester Yuliana
Putri Damayanti
Fidelia Danasworo Putri
Aimanur Muharam Tohir
Hafizh Adi Prasetya
Yenglis Dongche Damanik
2 nomor tak dikenal #eaDIRECT
Husin Sutanto
Murni Ambarwati
Oei Kwang Lan
Haifa Amirasari
Safira Prabawidya Pusparani
Anneke (…)
Aqila Listya PutriPHONE
Elisa Hananya Sutanto
I thank all of you, especially the ones who greeted me more than once (even though I do not disregard those who only greeted me once or casually). I thank you for your personal wishes and I hope I can fulfill it this year (the year of me being a 19 years old). I am sorry for any mistake, especially for those who greeted me by text. The contacts are missing, thus I do not know who are you guys without asking
I am also sorry if I misspelled your names above
I also look forward to return to Vancouver, may God pours His grace on me so I can return to Vancouver, a city I really love
Thank you and may God blesses all of you!
CHAO Targets for 2012
Yak, selamat tahun baru untuk yang merayakannya (meskipun sebenernya sudah telat
)! Mengikuti tradisi tiap tahun, pos ini tentunya adalah pos resolusi tahun lalu dan sasaran tahun yang baru. Untuk menghemat waktu, langsung saja kita mulai resolusinya.
Jadi tahun 2011 adalah tahun yang penuh perubahan. Seiring berjalannya waktu, dunia perlombaan wa semakin mengarah ke Model United Nations (MUN) dan sudah mulai meninggalkan debat, apalagi karena debat itu kurang memuaskan dan MUN melatih lebih banyak kemampuan yang tentunya dibutuhkan. Kalau berminat, coba saja berpartisipasi di IndonesiaMUN (IMUN) yang biasa diselenggarakan awal Oktober di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Wa bukan panitia jadi ini bukan adegan promosi, hanya IMUN benar-benar direkomendasikan, karena wa juga akhirnya merasakan MUN yang – maaf kata – malah membuat orang semakin tidak berminat MUN. Parah bener.
Selain itu, pada tahun 2011, wa mengalami salah satu tikungan terbesar dalam hidup manusia, yakni kehidupan kuliah. Beranjak dari kehidupan sekolah yang ternyata (di atas semua keragaman dan kebebasannya) masih homogen dan terlindungi ke kehidupan kuliah yang benar-benar bebas. Saat ini wa ngekos di Jatinangor, Sumedang, karena wa berkuliah di Universitas Padjadjaran, dan wa sangat menghargai pemeliharaan dalam hidup gereja, terutama yang di Bandung atau di Brother/Sister House, dan juga persahabatan yang wa bener-bener anggep ada di XQS. So, tetap jaya, ya, XQS!
Setelah lomba dan akademik maka kayaknya yang lain agaknya – dan malangnya – masih tidak telrlau berbeda dari tahun-tahun sebelumnya sejak wa mengambil jalan yang kurang baik ini. Tentunya daripada wa mulai meracau tidak jelas, lebih baik langsung saja ke sasaran tahun 2012!
Church Life
Pertama-tama, seperti biasa, sasaran pertama wa adalah tidak absen Perjamuan Meja Tuhan selama setahun, yang dari awal sudah terancam di bulan Maret. Semoga Tuhan menang pada akhirnya. Lalu yang biasa juga adalah membaca habis Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Versi Pemulihan dalam setahun (paling sedikit sekali). Semoga Tuhan merahmati wa sehingga bisa dengan tekun membaca Alkitab dengan teratur.
Lalu hal lain yang kali ini lebih khusus adalah untuk membawa paling sedikit seorang beroleh selamat, percaya dan dibaptis, serta menjadi buah yang tetap dan orang yang melayani dengan tepat di dalam gereja. Dengan ini wa juga mau ikut berbagian dalam pekerjaan kampus di Universitas Padjadjaran, yang wa harap bisa bertumbuh dan terus berkembang hingga menghasilkan buah yang tetap.
Sasaran terakhir dalam kehidupan gereja wa tahun ini adalah untuk mulai pelayanan, terutama pelayanan remaja. Memang wa dulu melayani anak-anak kelas besar (kelas 5-6) dan remaja (kelas 7-12) di Bogor. Sekarang, karena wa bersidang di Bandung, maka wa juga membutuhkan pemulihan pelayanan. Mengingat di Bandung jumlah gembala anaknya sudah cukup (apabila tidak melebihi) proporsi semantara gembala remajanya masih kurang (apalagi mengingat beberapa gembalanya juga mau lulus kuliah dan kemudian bekerja atau masuk Pelatihan Sepenuh Waktu di Indonesia), jadi wa pengen melayani remaja. Semoga Tuhan yang menjadi segala sesuatu wa sehingga wa bisa berbagian dalam pelayanan remaja.
Hobby Life
Sekarang mengenai kehidupan hobi wa, yang tentunya melibatkan MUN (yea, hampir kayak berhala hati aja nih MUN), adalah untuk menjadi awardee dua konferensi MUN internasional. Satu sedang mau berangkat (doakan ada duit) dan yang lain menunggu partisipasi (dan duit lagi, tentunya
). Semoga dengan menjadi awardee di dua konferensi itu, wa bisa berkontribusi kepada peningkatan gengsi MUN-er dari Indonesia, membangun kapasitas diri sendiri sehingga dapat membantu pembangunan kapasitas orang lain, dan memuliakan Tuhan.
Kemudian mengenai hobi, wa juga pas liburan dan sebelum pulang ke kampus sebenarnya mulai mencoba memeluk kembali salah satu hobi lama wa yang langsung berhenti wa lakukan ketika wa masuk kuliah; Role-play (RP). Menurut wa, RP itu hobi yang sangat bermanfaat, terutama untuk melatih bahasa tertulis dan memperluas wawasan dan pengetahuan umum. Memang wa tau sekarang kuliah itu super duper sibuk, jadi wa cuma bisa aktif RP pas liburan. Wa masih memegang keputusan wa di “Bid Me [Farewell and] Resolution“. Mohon maaf untuk semua forum RP yang wa telantarkan. Yang bener-bener wa sayangkan itu Gotei dan BOHQ (kadang-kadang juga Ryoku). Ya-ah, kalau ada waktu dan siap kembali, wa pasti akan kembali kok. Kita lihat saja nanti.
Usaha kembali RP sebenarnya berhubungan dengan salah satu proyek wa yang pengen ngebikin forum RP. Saat ini idenya adalah fantasi yang kalau bisa dapat juga melibatkan anggota biasa (nonstaf) untuk membangun dunianya juga. Dunianya juga kalau bisa bertahap, jadi seolah-olah untuk tiap pemutakhiran forum menjadi seperti expansion pack dari permainan konsol dan meningkatkan rasa memiliki dalam diri anggota biasa untuk menjaga mereka tetap aktif. Memang nggak semata-mata open source, tapi diusahakan kreativitasnya tetap wajar dan anggota biasa pun tetap dapat terlibat. Kalau ada yang berminat, langsung hubungi wa dan akan kita bicarakan bareng.
Academic Life
Nah, selesai kehidupan gereja dan hobi, kita selanjutnya adalah kehidupan akademik. Hal pertama dari kehidupan akademik adalah semoga wa isa menguasai saah satu bahasa Eropa Kontinental. Sejauh ini baru kepikiran kalau nggak Jerman, ya, Portugis. Mungkin memang akan condong ke Jerman, sih, karena wa ada sedikit (banget) latar belakang Jerman dan wa mengalami trauma yang membuat wa kayaknya nggak bisa latian capoeira lagi sehingga minat Portugis pun hanya untuk mengantisipasi kebangkitan Amerika Latin di kancah internasional.
Kemudian, wa juga bersasaran IPK wa bisa lebih dari 3.25. Benar-benar, deh, ini perlu kasih karunia Tuhan sehingga wa bisa belajar dengan baik. Nilai pertama yang keluar dari semester satu aja udah “B”, berarti udah nggak bisa 4. Huft, tapi semoga tetap di atas 3.25. Hal ini juga berhubungan dengan keputusan Kepala Jurusan wa yang mengatakan kalau IPK di bawah 3.25, maka nggak usah berpikir mengenai…
Organization Life
… hidup organisasi. Terutama karena wa adalah alumnus SMA Negeri 1 Bogor yang agak bener (dalam pengertian ikut organisasi), jadi hidup akademik tanpa organisasi itu berasa kurang. Sasaran wa dalam hidup organisasi adalah menjadi anggota Dewan Perwakilan Angkatan yang baik dan benar serta tepat.
Memang mungkin akan lebih terlihat pekerjaannya Badan Pengurus Harian, tapi wa yang belum begitu (dan sampai sekarang masih belum punya minat untuk) mengerti keadaan politik di kampus berpikir lebih baik untuk kalem aja. Ntar wa bantu-bantu aja program-program Himpunan Mahasiswa (HIMA) Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Padjadjaran, terutama untuk MUN for International Relations, karena memang perhatian wa ada di MUN. Untuk usaha membantu HIMA, wa akan berfokus pada penyelenggaraan konferensi MUN internal Jurusan HI lalu FISIP.
Terlepas dari HIMA, wa juga bersasaran untuk terus mengembangkan Freshmen United. Freshmen United (nama kemungkinan berubah karena wa nggak akan selamanya “Freshman“) adalah komunitas MUN bentukan beberapa mahasiswa Universitas Padjadjaran (tetapi terlepas dari Universitas Padjadjaran), yang sebenarnya wa harapkan dapat menjadi seperti United Netherlands; sebuah komunitas MUN elit di Kerajaan Belanda yang bergengsi internasional. Memang kayaknya masih mimpi kalau mau sampai United Netherlands, tapi marilah kita memulai dari mimpi!
Demikianlah sasaran wa dalam tahun 2012. Sebenarnya ada lagi yang pengen wa masukin, tetapi nggak jadi karena untuk ini wa menyerahkan saja kepada Tuhan karena hal ini lebih kuat dari kematian, sementara kematian itu benar-benar enigmatik untuk manusia. Wa percaya Tuhan tau dan selalu mengatur yang terbaik untuk wa, sesuai dengan rancangan damai sejahtera-Nya. Karena itu wa udah mencoba sekuat mungkin nggak galau mengenai masalah ini dan tetap kalem. Selama tahun 2011 wa sudah move on dan sekarang sedang tahap… nggak jelas
Yang penting jalani dulu saja setiap hari dengan tetap menjaga afeksi dan perasaan wa jelas tanpa membahayakan kedua belah pihak
Bagi yang masih nggak ngerti juga wa ngomongin apa, wa akan kasih petunjuk: K3.
Everyday’s Battles
Ok, so where do I start? Yea, apparently I’ve cheated with Tumblr and for a while and left all my blogs now due to time constrains. And when I mentioned “time constrains” it is not an exaggeration, because I have stopped following any TV, comics, books, and games series, or any particular hobbies, and my time spent in the cyberspace has significantly decreased. You can check that by seeing my Twitter and its history before I got into college.
So, yeah, I’m not a high school student anymore, and college changed me in some ways. I believe it is only natural because people say college is the very first turn of your life, with marriage and work as the second and third. When you become a college student, you can become almost anything. Almost, because even though I’ve seen people openly announced their homosexuality or renounced their faith on college level, I have not seen people changing faith on college level. So, almost. Let’s just wait what the world has to show me.
Enough of the jibber-jabber, the reason I got online on the very last month of year 2011 is to publish a certain philosophy which I gained this semester. Christians (or people who knows about the “Lord’s Prayer“) may find this philosophy familiar. It’s about living daily. Not hourly, weekly, monthly, bimonthly, per semester, yearly, or even for a lifetime. So let’s check out how it works.
You see that most problem the teenagers faced (especially on labile period) is about love life, especially when your love is unrequited or somehow blocked or hampered by certain issues (say, faith, behavior, lack of trust, over-jealousy, and many more – you know better). These issues, regardless of their significance, are apparently may cause lovers to feel disheartened, blue, or even think that the world’s about to end before the Lord’s Second Coming. Some people may be driven to madness or suicide when it comes pretty dramatically or exaggeratedly.
I, too, have experienced this issue quite dramatically on high school, but have prevented history to repeat on college level thanks to the solution which I came up whenever I started feeling blue, which is heavily related to the philosophy I am presenting in this post. The solution comes from seeing that we are living in a kind of routine everyday (school, recess, prayer, sleep, etc.). It means that regardless of what happened today, we are going to face pretty much the same hell hole tomorrow.
But don’t be disheartened now, because there is an element of uncertainty in our daily life. The most rational element of uncertainty (if you deny the “God factor” or “luck“) is human itself. Human tends to change personality everyday. That’s why your today’s friend may become your tomorrow’s enemy, and your today’s adversaries may become your tomorrow’s loved ones. We never know, because apparently we are already having too much on living as ourselves and often too tired to bother on others’ lives, especially when their actions do not affect us directly.
So, adding both variables (bleh, variables), we can see that we are facing pretty much the same thing but with different personalities everyday. It means regardless whether you are having this one day which makes you feel so satisfied that you are ready when death calls you on your bed at midnight, or a day which frustrates you to the pits of hopelessness, you are going to face all of them once again differently. You may win or lose today, but that result only last for a day. Tomorrow you are going to struggle again and maybe achieve different result. That’s why some famous anonymous said that:
perfection can be achieved by keep changing
Or, in my words, I can say that:
Everyday has their own battles. So you must struggle for it everyday and not let yourself drowned by only a mere day result.
Think about it!
Finished thinking or too lazy to do so? Then let’s continue. The previous concept of everyday’s battles is also not limited to love life. It is also applicable to your exam score or anything which may affect yourself. I hope you got the idea and philosophy (because apparently my texts has been proven incomprehensible, especially by some RP staffs who works in some RPF which I recently joined) and see you on next post
(hopefully I’ll post 2011 resolution soon)
First Name
I actually don’t have much time, so I’ll just go to the point of this post, which is about my first name; Maleakhi.
Some kinda religious people may recognize my name as the title of the last book of Christian Bible’s Old Testament (first half of the Bible) in Bahasa Indonesia and some people may go more specifically by recognizing it as the name of the author of the book. They guess correct. I was named after the writer of the last book of the Old Testament for a reason; I was born right after my mother finished reading the Book of Malachi even though her doctor said so many times that the time hadn’t arrived. I was finally born at May 17th ’93 at 8.35 PM (IIRC). Because my mother has a strong intuition, she remembered this and named me, “Maleakhi”.
As I’ve told you before, my name is the Bahasa Indonesia translation of the English “Malachi”, which in Hebrew was written “מַלְאָכִי” (pronounced: /male̞ɔkii/; alefbet and niqqud used [right to left]: Mem+Patach, Lamed+Shva, Komets Alef, Kaf+Hiriq, Yud) and means “My messenger” or – still in discussion – “messenger of YHWH”. Here, I’ll be underlining the word “messenger” which triggered my imagination to speculate whether God had planned and set my life on the path I’ll start walking on for the next three-four years. Let’s find out~!
New Tradition?
Well, I think I’m going to make my birthday greeting list a tradition. This way, despite its insignificance (well, I personally think it’s significant, FYI), I will still post at least once a year, rite? So, here goes everyone, starts from people who greeted me directly:
Murni Ambarwati
Oei Kwang Lan
Alfian Wiranata
Retno
Husin Sutanto
Wendi
Erik Ferdinand
Feniwati
Agnes Elimas
And the people who greeted me by phone:
Annisa Lalitya Mumtaza
Aqila Listya Putri
Retno Pudjiati
Budiasti Wulansari
Elisa Hananya Sutanto
And now the people who greeted me by text:
Annisa Lalitya Mumtaza
Angie Ester Yuliana
Budiasti Wulansari
Shadrina Fitri Ghazani
Edo Setyadi
Putri Alif Sagita Aurunia
Romi Sugianto
Denvi Giovanita
Talita Luna Siagian
And the people who greeted me by Twitter:
@cakcaraka
@inaminimoo
@febyfw
@iconcon
@freddyprawny
@nadhiranisrina
@eASYsmansa
@indirameirani
@Lwallker
@Riandi27
@icamumtaza
@helloluluuu
@adit_adit
@banibuzz
@dindamundakir
@aisyahsiregar
@zmeutia
@ayunapriani
@ShidoStrife
@atitfufufu
@federikar
@dellaalled
@Assakp
@indigofiz
@yumichiaki
@inardirizky
@ruthts
@caprinata
@ayipfahmi
@zzazah
@aiifadla
@alviiii
@ixoranabila
@rabor
@mhrdiani
@melisaverina
@elbyeol
@rrsyd
@salsaaxyz
@sapu_
@cathylessy
@dhiarp
@qamalpasha
@vetoanggita
@cherylnazik
@wijayaalmighty
@fideliadp
@sefayeh
@syjihan
@devilhime
@ramathgst
@kartiktik
@reyDP
@lunatalita
And the people who greeted me by Facebook:
Jess Kuchiki Koike Atreides
Benny Jonathan
Rizu Ivanovski
Hana Eka
김정운
Wahyuli Manis
Ratna Kartika Setiarso
Joshua Pradupta
Hany d’Rst
Dani Lukemovic
Alris Alfharisi
Afrishal Priyandhana
Sebastianus Bara Primananda
Lintang Adyuta Sutawika
Nita Nofita
Zahrina Zihni
Zahrah Nabila
Ruthnaomi Vitaloka Liquisa
Gery Natawijaya
Austin Iglesias Saragih
Aliviani Ayu Larashati
Lusiati Benyamin
Yunitha Blythe
Imanuel Sukrisna
Raflyoxa Ekalufta
Lisa Medina
Andre Rudolfo Yoshua Wowor
Randyansyah Rachmanalan
Rizka Irsalina
Nia Rishandayani
Elvina Kristina Budi
Age Baturimba
Muhammad Ryan Junaldi
Amalia Dewi Ardian
Angela Irene
William Satriajaya Tanama
Eva Vera Monica
Friedrich Hendra Wiriansatika
Muhammad Luthfiadi
Leonard Haryanto
Alvin Aulia Fardana
Desi Rubiyanti
Yozza Tan
Ajeng Miranti
Amanda Kistilensa
Kamila Edvani
Bobby Priyana
Cindy Irwan
Bernaseta Trias Hutami Zein
Arnold Mario Kaunang
Arif Somawijaya
Wieda Deasy
Vidia ‘Kaitou’ Anindhita
Michiru Uchiha
Priscila Lie
Mer Merry
Ghifari Rahadian
Alsyd Closer
Aiman Tohir
Dede Kurnia Sanjaya
Williem Karta
Fidelia Danasworo Putri
Hayyu Imanda
Adarahmah Adasakinah
Virza Maradhika
Salsabila Panji Arum
Betari Texania
Willy Setiawan
Atika Almira
Yunitari Amelia Wittelsbach II
Devin Oktavianus Warman
Amy Darajati Utomo
Amanda Puspitasari
Eko Budiyono
Canrawidya Octavian
Monica Linvia Kelana
And the people who greeted me by e-mail:
OneManga.com Forums
Animeb.com
Hofstra University
And the people who greeted me by plurk:
Bake2x
Naryel_Un_Raa
Houmei
Mitsukazefuurin
Terrazaru
Thank you, everyone, for your greetings, wishes, kind words, hopes, etc.
I also thank you my sister for the present, ~sacchi for the llama on DeviantART
, and a certain someone with the indirect present
and also the universe for crying so bad in my place, thus I can’t feel sad anymore when the result’s announced. Thanks God, I know You love me.
Bid Me [Farewell and] Resolution
Hei-how~, gimana kabarnya semua? Seperti tahun lalu, hari ini pun wa akan mengepost mengenai resolusi tahun ini, yakni tahun 2010. Gimana, sih, tahun ini berjalan? Ada apa aja yang bener-bener wa inget ampe sekarang? Oke, langsung aja kita baca di bawah.
#Twitter
Nah, kayaknya, sih, tahun ini wa baru bener-bener addicted to Twitter. Tahu, kan, situs miniblog ini? Bahkan wa masih menggunakan sistem di twitter pas online di Facebook (terutama lambang pagar [#] sebagai penanda emot yang lagi dipake)
Nothing new, but if you wanna contact me fast, you better use Twitter. If I don’t respond to your tweet, then it mostly possibly means that I’m just too occupied with my current activity.
Galau
Haha, kayaknya remaja-remaja se-Indonesia pada tahu, ya, arti kata di atas? #fufu Yup, galau tidak dapat dilepaskan dari diri wa akhir-akhir ini. Sedikit recap, meskipun tahun lalu rasanya wa udah bisa ngeliat masa depan wa dengan seseorang, tapi tahun ini ada beberapa distractions, sebutlah S-1 dan S-2 (silakan, @akatsukifrost, kalo masih inget #fufu #plak) juga S-3 meskipun cuma thoughts.
Ironisnya, they all followed almost the same pattern. It #somehow got worse and, yeah, pretty much a failure, much to unknown causes (really, no exagerration[sp?] here), meskipun badan wa sekarang jadi anget kalo inget akan 3 orang itu. Well, wa harap hubungan wa bisa membaik, terutama untuk yang S-2 dan yang S-3. Untuk S-2, wa selalu inget ama tweet u, dan emang bener, wa nggak isa untuk u, tapi rasanya nggak enak aja karena kayaknya setiap kali wa ngeliat u, u selalu preoccupied with something. Guess I just miss your cheerful smile and self. I’m sorry if I ever neglect you or do anything bad. I know that I’m not really sensitive, so please tell me so I can make amends.
Untuk S-3, wa tau masalahnya ada di wa. I’ve left you and… yea, you know the story; I’ve told you, rite? So, let’s just let everyone knows everyone’s well-being when things happen. I know it’s gonna be awkward at first, but I’m positive that we can figure this out together (because we always were, right? Just look at our debate roster
). If it turns out that it’s already beyond repair, then I’m willing to take the blame.
Tapi in the end, wa sekarang makin berserah mengenai hal ini (terutama untuk yang beneran, bukan yang S), dan wa sekarang semakin manteb untuk bersikap suportif terhadap pasangan ini. So, for both of you, all God’s bests for your future!
As for me, I believe in God’s plan. Some of you may think that I’m pathetic, but, yeah, I have no excuses. In the past I’ve used too many excuses and complained a lot, but no longer. I won’t even play as the victim, because only desperate cowards do. I know I’m not that strong, either, so, if you have any help, I’ll be open. Just ring a bell, ok?
Sneak Peek to United Nations
Ok, this one is definitely interesting. Jadi ada jenis lomba baru yang agaknya [telat wa sadari] baru merambah lingkup SMA, yaitu Model United Nations, yang wa ikuti di ALSA UI Local Chapter.
MUN bener-bener captivate my heart. At first it may looked boring and time-consuming (I mean, because I was a debater, sessions won’t last for hours or days!), but look at us now! It’s fun and serious and… well, so much fun #sakali because it’s stated that “time flies when you’re having fun“. It also finally got me an ALSA trophy (definitely my most favorite trophy of other trophies, I’ve got - too bad I didn’t get the “oscar” ), perhaps because I’m a little more prepared (because my preparation really costs me in many things with pride included
).
So, believe me, you better sign up for 2011′s MUN!
And I will really go again if God permits me and He sets the situation right (it doesn’t cross universities’ test or final exam dates, i don’t have problem with school, etc.).
Senior Year is… [Almost] Beyond Words!
Yea, kelas XII itu bener-bener, deh, nggak nahan
dan wa bener-bener caught up sama the whole thing. Semuanya jadi sibuk, ada konflik ini-itu, kelas di-shuffle, relationships change, well, bener-bener [almost] beyond words. Wa tau wa telat “mempersiapkan” semuanya, tetapi mari kita lihat bagaimana wa mengakhiri tahun ketiga wa di SMANSA. Hopefully everyone sees bright future images from the foundation we set in… a couple of months, I think?
A Whole New World Batch!
Ok, pergantian tahun ajaran berarti pergantian pengurus ekskul, dan wa menjadi ketua regen eASY. Lumayan, sih, wa bisa mencoba mematahkan rantai yang tidak ada habisnya ini, dan meskipun wa tau wa punya banyak masalah dan kekurangan, wa percaya angkatan di bawah wa, angkatan pengganti wa, bisa membuat cara yang lebih baik. Kalo ternyata kalian memang harus melakukannya dengan cara konvensional, at least kalian tahu bahwa ini bukan untuk bales dendam atau apapun, tetapi bahwa ini dilakukan untuk kebaikan kalian; at least sekarang kalian nggak bisa ngomong sendiri bahwa semua kata-kata “kita gini ada maksudnya, Dek!” or anything similar sudah dibuktikan, terutama untuk anak eASY, ya~
Untuk anak KIR yang pengen tahu rasanya regen nonkonvensional yang [kelihatannya] lebih kondusif, silakan tanya ke anak eASY. Anak Sketsa yang mau mengaplikasikan regen tahun depan tapi mau nggak dianggep sama dengan regen-regen lainnya, [kalo mau boleh] hubungi wa (karena wa sebenernya punya beberapa ide, sih).
Sayangnya, itu kembali mengingatkan wa ama kehidupan per-ekskul-an wa yang… sangat memihak ke 1 ekskul (sebut saja, eASY #plak) dan gabut di ekskul-ekskul lain. Tapi waktu sudah berlalu dan wa tau kalo memang lebih baik wa [yang masih terlalu revolusioner dan idealis] nggak jadi aktif di ekskul-ekskul lain. Pokoknya, all the bests juga buat angkatan-angkatan baru! Wa percaya kalian bisa lebih baik! Kalo kalian masih mau ngobrol, silakan aja, sih, wa open, dan sudah lebih dapat menerima bahwa angkatan wa – seburuk-buruknya dan sebaik-baiknya – sudah selesai. Memang belum puas karena goals angkatan wa terlalu tinggi, tetapi wa percaya seenggaknya angkatan wa dapat dikatakan udah cukup untuk menjadi batu loncatan kalian untuk menggapai those higher goals, terutama karena wa udah ngeliat bahwa kalian juga punya XQS angkatan kalian (hopefully, it won’t only be Cheryl, Aqila, Daffa, Pepe, Salsa, and Retha, but will grow bigger and closer – yea, if you wanna be like the previous XQS, you gotta be closer, dudes
) – salah satu hal yang bener-bener kalian lack.
Law No. 3 year 2010 regarding Play-by-post Role-playing Games
Harus wa akui, wa sangat terjerumus dalam Role-play (RP). Memang ada momen di mana wa bener-bener nggak RP lagi sama sekali, tetapi akhirnya wa RP juga pada akhir tahun ini #plak Tetapi wa sekarang tau bahwa wa ini manusia terbatas, dan efektif mulai 1 Januari 2011, maka wa akan mengaplikasikan aturan baru mengenai aktivitas RP wa, yakni:
There shall be only one character in one play-by-post role-playing game site.
Cukup jelas, kan? Mungkin akan ada pengecualian buat BOHQ, ya, karena wa adalah staf dan sehebat-hebatnya wa mau menghabisi OC wa di sono, minimal wa harus menjangkau semua cabang, so, mungkin OC yang bener-bener akan bertahan [setelah purge yang sebentar lagi datang] adalah: Lupus Corwin dan Nellie Barker (MCAUS), Mine Kaya Berrin (MCATT), juga Silverius Girlani (MCA) (Markas Pusat nggak karena sudah banyak banget anggotanya dan udah banyak karakter baik buatan staf maupun nonstaf lainnya yang pasti bakalan oke #plak). Sementara itu, Gary Stewart, Abel Baptiste, dan Benjamin Baptiste, akan kena purge, sedangkan Pyotr Velikiy rencananya akan dijadikan seorang purnawirawan di HoF (yea, Chief, inilah proposal Jenderal HoF saya. Oke, kan?
#plak) dan Frederick Ulrich bisa bertahan di board pendaftaran mengingat saya masih sayang banget untuk melepaskan dia mengingat riset luar biasa yang harus saya lakukan untuk membuat dia (lihat saja Riwayat pra-BO-nya yang memakan beberapa halaman A4! #pamer #plak).
Yup, selain BOHQ, saya akan menerapkan hal ini, kecuali kalau saya cukup beruntung untuk menjadi staf RP di forum lain dan merasa perlu membuat lebih dari satu OC.
Talk Think Less, Do Feel More
Wa nggak tau, tapi ada momen di mana wa menyadari bahwa wa mulai lebih mengandalkan hati ketimbang pikiran; perasaan daripada akal sehat. Memang wa masih mikir dalam melakukan sesuatu, tapi suatu malem, wa disadarkan aja kalo ternyata wa makin lama makin sensitif terhadap perilaku orang ke wa. Well, wa nggak tau ini hal baik ato nggak (lebih condong ke baik, sih), dan wa tau bahwa mungkin temen-temen wa yang sekarang lebih mementingkan akal sehat untuk mempersiapkan masa depan akan mikir wa bego dan telat banget, tapi, wa percaya semuanya ada di dalam pengaturan-Nya dan wa cukup berserah aja sama Dia karena Dia sudah atur segala sesuatunya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia, yaitu bagi kita yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.
Kudus Dua
Yak, wa emang nggak keliling Jawa tahun ini, tapi wa ikutan Konferensi Perbauran Remaja di Bandung tanggal 22-27 Desember 2010 dan berbaur dengan banyak orang dari Jakarta, Bogor, Bandung, dan Singapura dalam sebuah kelompok yang bernama “Kudus Dua”! Kelompok ini terdiri dari Miguel, Santo Christianto, Dadang, Gery Natawijaya, Belly Yan Putra, Bagus Setiawan, Vidi Suryawijaya, Franky Sutanto, wa, Devin Oktavianus Warman, dan Alfian Wiranata.
Dari kelompok ini, wa bener-bener mendapatkan bantuan dan esensi dari sidang perbauran kali ini. Kelompok ini juga bener-bener beda dari kelompok-kelompok dalam sidang-sidang sebelumnya, di mana kita bener-bener keep in touch dan tetep saling membangun di dalam Tuhan bahkan setelah sidangnya selesai. Pokoknya, wa harap tahun depan, ketika ada sidang perbauran lagi, kelompok Kudus 2 bisa reunite ato seenggaknya ketemuan lagi. Saat itu, wa yakin kita semua sudah bertumbuh dalam Tuhan. Tuhan memberkati! ![]()
___
Demikianlah resolusi tahun 2010 wa. Kalo dilihat-lihat memang lebih bland ato kurang gereget dibandingkan dengan resolusi tahun 2009 wa, dan jujur aja, wa aja nggak tau wa harus memberi judul apa sampai saat wa ngetik kata ini karena wa bener-bener udah ngeliat ke tahun 2011, sih.
Karena itulah judulnya jadi begini, karena wa merasa resolusi ini lebih terlihat seperti pengantar menuju tahun 2011. Wa percaya tahun 2011 akan menjadi tahun yang oke dan bener-bener seru, karena sebenernya tahun 2010 ini rasanya habis dalam pikiran wa yang bener-bener ribet dan pada akhir tahun 2010 ini, wa rasanya bener-bener siap untuk pergi!
God blesses you all, brothers and sisters!
Mei 1998: Tiba-tiba Gelap Mata?
8 hari sebelum Orde Baru berakhir, terjadi sebuah kerusuhan besar di Jakarta. Kerusuhan ini terjadi selama 2 hari, tercatat tanggal 13-14 Mei 1998, dan hebatnya, memakan korban jiwa sekitar 5.000 orang. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu? Mengapa begitu banyak orang terenggut nyawanya? Siapakah dalang kerusuhan mengerikan ini? Juga apakah kerusuhan ini sebenarnya diperlukan untuk menghancurkan rezim Orde Baru? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam studi kasus kali ini.
Sebagai latar belakang, pertama-tama, perlu diketahui bahwa Mei 1998 adalah momen yang sangat penting bagi orang Indonesia dan demokrasi secara umum karena pada tanggal 21 Mei, Soeharto, almarhum mantan Presiden Republik Indonesia (RI), mengundurkan diri karena tuntutan rakyat dari jabatannya meskipun telah memenangkan Pemilu 1998. Pengunduran diri Soeharto juga tidak lepas dari konflik di dalam pemerintahan, di mana tokoh-tokoh masyarakat dan anggota kabinetnya sendiri menentangnya kembali menjabat sebagai Presiden RI, baik secara lisan maupun tulisan; Selain itu, dari luar pemerintahan, hal ini juga disebabkan oleh “Invasi Senayan”, sebuah revolusi yang digerakkan oleh para mahasiswa yang menduduki gedung pemerintahan di Senayan, Jakarta, yang dengan efektif mengganggu kinerja MPR dan DPR yang berlokasi di tempat itu.
Kejadian ini dapat dikatakan tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga meskipun sekilas Soeharto memiliki kekuasaan besar semasa Orde Baru, sebenarnya saat itu, dapat dikatakan Soeharto cukup sendirian, karena bahkan ketua MPR dan ketua Golongan Karya (Golkar) saat itu juga menentang Soeharto menjadi Presiden RI. Soeharto sendiri dapat melihat bahwa saat itu keadaan Indonesia semakin kacau di bawah kepemimpinannya dan usulan Reformasi 2003 yang dicetuskannya jelas-jelas ditolak rakyat.
Melihat semuanya ini, kelihatannya semua yang terjadi sudah cukup untuk membuat Soeharto turun dari kursi kepresidenan dengan baik-baik (apalagi apabila melihat ke depan ke akhir masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, di mana hanya diperlukan keputusan tegas kabinet dan militer untuk memberhentikan masa jabatannya secara tidak hormat), dan dilaporkan bahwa Soeharto juga semakin sering menimbang keputusan untuk tetap melanjutkan masa pemerintahannya atau mengundurkan diri sesuai tuntutan rakyat setelah meskipun saat itu dia harus mempersiapkan diri untuk menghadiri KTT G-15 di Mesir.
Akan tetapi setelah semua itu, mengapa masih terjadi kerusuhan besar yang menjadi kasus dalam esai ini padahal gelombang pertama Invasi Senayan sudah dimulai sejak bulan Maret? Apalagi kerusuhan ini bukan seperti kerusuhan lainnya yang biasanya memakan korban di pihak mahasiswa/demonstran bukan rakyat secara umum, apalagi para pelaku ekonomi. Kejadian luar biasa ini jelas tidak muncul begitu saja dan banyak orang percaya bahwa ada tangan-tangan tidak terlihat yang menggerakkan rakyat RI untuk melakukan pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penjarahan pengrusakan, penghancuran, dan berbagai kejahatan kemanusiaan dan ekonomi lainnya, yang sebenarnya juga mendapatkan perhatian para sejarawan dunia yang menilai bahwa rakyat Indonesia saat itu sedang benar-benar gelap mata.
Salah satunya adalah Sandyawan Sumardi, seorang pendeta dan anak kepala polisi saat itu, yang sempat mengadakan investigasi independen mengenai masalah ini dan mewawancarai saksi-saksi langsung kerusuhan ini. Hasilnya cukup mengejutkan, karena banyak saksi yang mengatakan bahwa mereka melihat perwira Kopassus memerintahkan massa membakar sebuah bank; saksi-saksi yang berlatar belakang pemilik toko pun mengaku bahwa beberapa hari sebelum kerusuhan terjadi, beberapa perwira militer mendatangi toko-toko mereka dan meminta uang keamanan; saksi-saksi lain yang lebih muda mengaku bahwa seorang perwira Kopassus memerintahkan mereka untuk ikut dalam kerusuhan; saksi-saksi lainnya menyatakan bahwa perwira-perwira militer datang dengan truk militer dan mengajak mereka ikut dalam kerusuhan serta mengarahkan mereka untuk menyerang rumah-rumah dan toko-toko, terutama milik etnis Cina. Beberapa saksi juga menduga bahwa Jenderal Prabowo lah yang mengatur pergerakan perwira-perwira militer itu, akan tetapi ini baru dugaan semata.
Fakta yang mengejutkan itu juga didukung oleh sifat pasif fraksi militer di pemerintahan pada masa itu dan oleh sikap ambisius Jenderal Prabowo yang menginginkan jabatan Kepala Perwira Angkatan Darat ABRI yang diberikan Presiden Soeharto kepada Jenderal Wiranto. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa para perwira militer yang tidak berseragam ikut turun ke jalanan dan bergabung dengan massa yang mengamuk, bukannya berusaha menenteramkan massa. Apabila kita kembali merekap sejarah bangsa Indonesia dan melihat kebencian fraksi militer terhadap fraksi komunis dan etnis Cina di Indonesia, seolah-olah sudah dapat disimpulkan bahwa tangan tidak terlihat tadi sebenarnya adalah tangan fraksi militer.
Akan tetapi sebagai warga RI, penulis jelas tidak dapat menghakimi fraksi militer dan ABRI sampai penulis mendapatkan fakta langsung yang membenarkan hipotesis ini, dan melihat kejadian ini sudah lampau, maka penulis tidak memiliki wewenang menuntut pemerintah atau ABRI untuk memberikan kompensasi kepada para korban. Peristiwa yang sudah terjadi lebih dari satu dekade yang lalu ini sekarang hanya meninggalkan bekas pada generasi yang benar-benar mengalami dan menyaksikan kerusuhan ini, karena sebagai generasi ketiga dari generasi korban kerusuhan Mei 1998, penulis sama sekali tidak mengetahui hal ini sampai pembelajaran mengenai sejarah Indonesia mencelikkan matanya saat dia duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana bahkan saat itu, penulis sudah menyadari lampaunya masalah ini dan betapa tidak hal praktis yang dapat dilakukannya sekarang.
Meskipun begitu, sebagai tolak ukur ke depan, penulis berharap kejadian serupa tidak terulang, dan semua konflik dapat diselesaikan tanpa agenda tersembunyi fraksi tertentu atau secara anarkis, apalagi karena RI sekarang sedang menghadapi konflik besar dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang penduduknya telah mendeklarasikan berani untuk mati demi Keraton. Perlu diingat bahwa “menghormati sejarah” berarti “tidak mengulanginya kembali, melainkan mengembangkan sejarah yang baik dengan belajar dari sejarah yang buruk”. Jangan sampai budaya demokrasi modern berdegradasi menjadi gerakan anarkis primitif.
www.rol-plei.co.cc
Kali ini wa nggak akan menge-post yang aneh-aneh karena wa sadar wa sudah terlalu banyak berbicara yang kurang penting di posts sebelumnya. Karena itu, kali ini wa hanya akan menge-post mengenai tugas membuat situs jejaring yang kabarnya sudah menjadi tradisi di SMANSA. Temanya dibebaskan asal tidak mengandung pornografi dan konten ofensif lainnya serta tidak menyinggung politik dan SARA (suku, agama, ras, dan lainnya), dan karena wa sebenernya pengen RP lagi, akhirnya wa memutuskan untuk membuat situs jejaring mengenai RP (singkatan dari Role-play), yang sekarang sudah selesai (files-nya selesai diunggah tanggal 1 November) dan dapat dinikmati dengan mengunjungi alamat www.rol-plei.co.cc atau langsung ke malesishere.byethost12.com (sekalian #promosi #plak).
Oke, mungkin [ada beberapa di antara] kalian wonder apa sih Role-play itu? Yang jelas Role-play itu bukan makanan, dan tidak dapat dimakan. Role-play adalah sejenis hobi dan juga permainan (mungkin satu-satunya permainan yang saya mainkan belakangan ini), dan apabila kalian pengen tahu lebih banyak mengenai Role-play, langsung saja tancap gas ke situs jejaring saya yang alamatnya sudah disebutkan di akhir paragraf sebelumnya. Tenang aja, sasaran situs jejaring wa ini justru lebih ke orang-orang yang nggak tau Role-play itu apa (tapi kalo ada Role-player yang iseng dan pengen buang waktu, sih, tidak dilarang untuk berkunjung #fufu #plak), jadi justru dengan berkunjung ke sana, kalian akan tahu Role-play itu apa, bukannya merasa left out.
Selain untuk memperkenalkan Role-play pada masyarakat umum, pembuatan situs jejaring bertema Role-play ini juga ditujukan untuk mempermudah Role-player dalam mengetahui hal-hal mendasar dalam Role-play. Penyalinan dan modifikasi beberapa konten dari situs jejaring wa diperbolehkan, tetapi tolong cantumkan credits (kalau bisa diberi tautan menuju ke situs jejaringnya) karena semua konten kecuali konten-konten yang berada pada halaman “Role-play Destroyer” (credits to Xaliber on Gotei 13 and Chief Supervisor on Black Order Headquarter), “Role-play Tips” (credits to various users on Indonesian Hogwarts), dan “BB Code” (credits to Wikipedia), wa bikin sendiri. Wa yang nyari data sendiri, wa yang ngetik sendiri, wa yang meringkas sendiri, so, berilah sedikit penghargaan, ok?
Sekedar pemberitahuan wa membuat situs jejaring ini compact dengan desain minim dan format sederhana. Jadi jangan harap kalian akan menemukan gambar-gambar lucu atau semacamnya, karena kalian akan menemukan halaman-halaman padat berisi sesuai topik masing-masing halaman.
Wa rasa segini aja buat post kali ini (yang penting November udah nge-post #plak)
. See you on the next post
A Loud, Great Campaign’s Silent Voices
Oke, post ini wa buat karena ada beberapa poin yang wa anggap belum selesai dari kejadian hari ini. Sebelumnya, saya, seperti para KPH [yang adalah manusia] mohon maaf apabila ada yang tidak saya ingat. So, tanpa bacot lagi, langsung saja kita masuk ke hari ini.
Hari ini, mulai dari pukul 10.15-16.xy (wa lupa nyatet waktu acara berakhir), di SMANSA ada yang namanya Kampanye Akbar (Inggris: Great Campaign, selanjutnya disebut “GC” demi keringkasan). Acara ini merupakan lanjutan dari acara Kampanye Kelas yang diadakan kemarin. Kampanye ini dihadiri oleh semua warga SMANSA, both teachers and students alike, dan bertujuan untuk mempromosikan para Kandidat Pengurus Harian (KPH) Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Menengah Atas Negeri 1 Bogor [sekali lagi] kepada warga SMANSA secara umum. Asumsi saya, acara ini telah menjadi tradisi dan biasanya angkatan yang tengah menduduki tingkat XII (senior) bersikap antagonis terhadap para KPH yang seharusnya mendapat dukungan dari angkatan yang tengah menduduki tingkat X dan XI. Untungnya, ketua BPPKO (sp?) memutuskan untuk membebaskan setiap angkatan, memperbolehkan masing-masing angkatan untuk bertanya, mengkritik, menjatuhkan, dan mendukung para KPH. Hal ini jelas mempermudah wa yang berniat menjadi pengkhianat angkatan, yang akhirnya sukses wa jalani #ea
Oke, akhirnya setelah pelajaran-pelajaran gaje (hari ini Bahasa Indonesia hanya memeriksa soal UN dan wa nggak begitu peduli ama Pelajaran Agama Islam yang menurut wa kurang dapet maknanya – mungkin karena keterbatasan waktu), GC dimulai. Setelah pidato yang nggak penting dan panjang dari berbagai pihak (yang wa komentari secara diam-diam dengan mengangkat kertas buram bertuliskan “Boo..!” – akan wa bahas nanti), akhirnya KPH 1, Ghilandy Ramadhan, turun [dari lantai dua lalu naik] ke podium.
Jujur aja, kampanye KPH 1 cukup baik, malah menurut wa (yang setelah membaca semua visi dan misi para KPH dapat menyimpulkan bahwa semua misi KPH 2, 3, 4, 5, 7, dan 8, sudah tercakup dalam misi KPH 1) keren, sehingga pada saat-saat yang wa anggep tepat, wa ngangkat kertas burem bertuliskan “KPH KEREN BANGET!” (selain itu, wa juga udah nyiapin tulisan “KPH BIASA AJA!”, “BOO..!” dengan gambar hantu kecil di atas kedua titik yang mengikuti kata tersebut, “SABAR YA..!”, dan “DA-DAH!” dengan gambar tangan kecil di sudut kiri bawah kertas buram). Tentu saja ini ada maknanya, dan hal ini akan wa bahas ntar, but for the mean time, lumayan, lah, untuk menghibur KPH 1 bahwa kampanyenya berjalan agak mulus meskipun angkatan Perisai Ksatria tetap yelled at him dan kelas XII IPA 1 merasa bahwa makna amanah mereka tidak “sedangkal” yang dikira para KPH (jujur aja, wa merasa filosofi “1 [sebagai awal] 6 [sebagai proses] 8 [sebagai akhir yang efeknya terus dirasakan]” itu agak dangkal, but, whatsoever, it’s ended).
Selanjutnya, KPH 1 digantikan KPH 2, yang jujur aja, agak mengecewakan. Di satu sisi, wa memang sangat mengakui kecerdasan M. Irsyad Tawakal yang berpendapat bahwa sebagai pemimpin, para KPH harus dapat membalikkan masalah menjadi batu loncatan (dilambangkan oleh membalik bagian runcing paku payung sehingga kuning telur yang disimpan dalam cangkang telur tidak rusak karena cangkang telur hanya bersentuhan dengan bagian lain dari paku payung yang tumpul dan lebar). Meskipun begitu, kalau dia benar-benar melihat lebih dalam, sesungguhnya masalah itu masih ada di sana (karena bagian runcing paku payung tersebut masih ada di sana), dan bagaimana pun masalah harus dibereskan secepat mungkin. So, hati-hati dalam berbicara.
Di sisi lain, yang membuat kampanye KPH 2 mengecewakan itu sebenarnya adalah jawabannya ketika seorang anak kelas XI bertanya mengenai dampak langsung yang dapat diberikan KPH 2 kepada ekstrakurikuler lain di SMANSA, yakni bantuan finansial. Jujur aja, wa nggak begitu yakin bantuan finansial itu feasible karena anggaran TOP saja sebenarnya defisit. Nah, sudah defisit masih mau ngasih duit ke ekskul lain? Dream on, Baby! Dan karena itulah wa mengangkat kertas buram bertuliskan “BOO..!” (yang ada gambar hantunya #penting) pada kampanye KPH 2. IMHO, jawaban yang cukup feasible mungkin adalah dengan meningkatkan koordinasi dan penyebaran anggota pengurus OSIS ke dalam susunan kepanitiaan acara masing-masing ekskul, sehingga dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki OSIS, ekskul yang kuat akan diamplifikasi, dan ekskul yang [terlihat] lemah akan dikuatkan.
Nonetheless, akhirnya KPH 2 digantikan oleh KPH 3, Fandy Nurrachmat. Wa nggak begitu kenal Fandy (Ghiland agak wa kenal karena dia tahun lalu juga ikut GC dan Icad agak wa kenal dari KIR), jadi wa nggak begitu merhatiin, karena melihat salah satu KPH tidak masuk sekolah, jadi ada 2 kelas yang berkoalisi untuk menyerang KPH 3. Kasihan, sih, namun wa nggak munafik dan tetap mengangkat kertas buram bertuliskan “KPH BIASA AJA!” pada kampanye KPH 3 karena wa merasa bahwa kampanyenya tidak sebagus kampanye KPH 1 namun tidak seburuk kampanye KPH 2.
Selanjutnya, KPH 4, Linea Alfa Arina, turun ke mimbar menggantikan KPH 3, dan mulai berkampaye. Kali ini, karena Arin adalah sasaran dari XII IPA 5 (kelas Ayip Fahmi Faturochman, eASY Chairperson 2009/2010, yang sangat wa hormati), jadi wa ikutan juga merhatiin; juga di sisi lain, Arin tahun lalu juga mengikuti GC, jadi wa mengharapkan performance yang bagus.
Untungnya harapan wa nggak kandas dan wa bisa mengangkat kertas buram bertuliskan “KPH KEREN BANGET!” pada kampanye KPH 4. Saat itu wa juga menyadari bahwa keadaan mulai memanas dan pertanyaan mulai agresif serta kabinet OSIS yang tengah mengalami regenerasi pun mulai benar-benar aktif membela. Oke, it’s a good progress, although I can still see that some people still didn’t care about the KPH. KPH 4 juga mendapat respon positif dan kelas XII IPA 5 menyatakan bahwa mereka bisa percaya sama KPH 4 yang kabarnya merupakan satu-satunya KPH yang sukses melakukan simulasi di kelas XII IPA 5. Tentu saja ini adalah pedang bermata dua yang juga menyerang KPH lainnya yang [telah berkampanye dan] dianggap tidak layak diberi kepercayaan – yang wa anggep agak benar, kecuali KPH 1.
Lalu akhirnya sasaran kelas wa (XII IPA 6), Bathriq Fatma atau KPH 5, berkampanye. Jujur aja, dari awal wa ngeliat banyak kekurangan dari visi dan misi serta performance KPH 5. Pertama, seperti yang dikatakan anak-anak XII IPA 6 yang lain, misinya terlalu sempit dan kebanyakan hanya berfokus pada OSIS. Kedua, misinya juga abstrak dan sebenarnya sudah terkandung dalam misi KPH 1; keabstrakan ini diakui oleh KPH 5 sendiri dan karena itu wa nggak tau napa wa harus vote dia besok. Ketiga, KPH 5 ini cukup lemot. Entah apa yang mengganggu pikirannya, tapi dia nggak isa memberikan jawaban yang memuaskan untuk meresponi pertanyaan anak-anak XII IPA 6, tidak seperti KPH 2 yang sempat beradu argumen cepat dengan wa pada poin dampak langsung tadi.
Tentu saja, wa sebagai anggota kelas XII IPA 6 akhirnya angkat bicara juga untuk membahas kesempitan visi dan misi KPH 5, yang berusaha dijawab oleh yang bersangkutan. Jelas saja wa nggak puas, dan akhirnya setelah wa melihat “kelemotan” KPH 5 dan bagaimana sedari tadi hanya anggota kabinet OSIS yang tengah mengalami regenerasi saja yang terus-menerus maju ke depan dan membela para KPH secara langsusng, wa akhirnya menyinggung angkatan Benteng Batu dengan mengatakan bahwa angkatan Perisai Ksatria lebih baik daripada angkatan Benteng Batu, dan KPH tahun 2010 lebih buruk daripada KPH tahun 2009. Hal ini memang wa yakini, karena tahun lalu wa menyaksikan Murai, Ola, Hilmi, Faiz, Raras, Taris, Ghiland, dan Arin, yang bener-bener berjuang dan kuat menghadapi gelombang tensi yang lebih ganas daripada hari ini.
Penyinggungan ini jelas memicu kontroversi dan akhirnya beberapa anggota angkatan Benteng Batu angkat bicara untuk membela angkatan mereka dan untuk membela KPH 5 dengan cara memberanikan diri untuk mendebat kalimat-kalimat wa barusan. Tentu saja, wa mau ngebales lagi, tapi akhirnya Murai menghentikan topik itu sebelum berlanjut lebih parah lagi. Hal ini wa lihat sebagai kebijaksanaan ketua OSIS Avion yang jelas ingin mempersatukan angkatan, dan karena itu mungkin pada poin ini, wa adalah seorang pengkhianat angkatan, tapi wa punya alasan atas tindakan wa. I mean, I always have.
Pertama-tama, alasan ini tidak wa gunakan untuk membenarkan diri. Wa tahu cara wa salah dan wa kelewatan, so, buat Murai dan Ghiland, it’s fine if you want to scold or do [almost] anything to me, namun wa nggak ngeliat angkatan Benteng Batu bener-bener maju dan membela KPH mereka, dan wa melakukan ini untuk menyulut mereka supaya lebih aktif dan perhatian kepada kampanye. Wa juga tahu bahwa setiap angkatan itu memiliki kekuatan dan kelemahan mereka masing-masing, tapi, kalau tidak ada desakan atau himpitan kondisi, pernahkah kita duduk tenang dan merenungkan semua kelemahan dan kekuatan angkatan kita, lalu menyalakan kembali semangat baru untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan itu dan mensyukuri kekuatan-kekuatan itu? Tidak usah berbicara yang muluk-muluk ataupun yang menyangkut mengembangkan kekuatan angkatan. Saya juga berasumsi bahwa mungkin Murai sempat melakukan semuanya itu ketika Open Recruitment-nya dalam acara-acara besar OSIS (yang jelas menghimpitnya dan kabinet Avion) berhasil, dan warga SMANSA bahu-membahu membantu anggota pengurus OSIS Avion. Wa tahu wa lancang untuk berasumsi seperti ini, dan wa tahu mungkin ada cara yang lebih halus, tapi cuma itu yang bisa wa pikirin saat itu, so, it kinda happened.
Terus yang wa perhatiin lagi adalah, sampai KPH 5, amanah dari kelas XII IPA 6 nggak begitu dianggep penting, atau setidaknya kurang terlihat. Awalnya wa nyariin wadah apapun yang berisi bubuk-bubuk campuran (STMJ [atau susu, Telur, Madu, Jahe], Sagon [yang kabarnya sejenis kelapa], Nutri Sari [rasa jeruk], Teh [Sariwangi], Kopi [Indocafe Coffemix], dan Agar-agar [Swallow Brand rasa rumput laut]), namun akhirnya wa ngerti bahwa para KPH (dengan polos, mungkin, apabila tidak bodoh) menuangkan air kepada suspensi itu dan mengaduknya lalu membiarkannya begitu saja, sementara kemarin, kami sudah mengatakan bahwa tugas para KPH adalah mengidentifikasi [elemen-elemen] suspensi tersebut. Oh, it’s a huge fall, indeed.
Hal itu dikarenakan, pesan dari amanah kelas XII IPA 6 adalah bahwa dalam menghadapi sebuah masalah, seorang pemimpin harus mampu memilah-milah masalah besar itu menjadi masalah-masalah kecil, sehingga dengan efektif dapat membereskan akar-akar dari masing-masing masalah tersebut, tanpa menyepelekan masalah-masalah tersebut. Hal ini jelas berlawanan dengan makna tersirat (yang mungkin tidak disadari para KPH) dari menuangkan air untuk mencampurkan suspensi tersebut secara homogen, yakni usaha menyelesaikan masalah dengan menggeneralisasikan masalah itu dan melakukan prinsip solusi “[let's just assimilate those problems] for once and for all“.
Selain itu, apabila diperhatikan baik-baik, maka tidak semua elemen dari suspensi itu tidak berasa atau kurang enak di lidah. Hal ini berarti apabila seorang pemimpin cukup cermat untuk memilah-milah masalah tersebut, maka dia akan dapat menemukan solusi atau manfaat dari antara semua masalah-masalah tersebut. Tentu saja, semua makna ini sekali lagi tidak didapatkan oleh para kPH dan harus diberitahukan Sena, ketua kelas XII IPA 6.
Selanjutnya, waktunya KPH 6 yang bernama lengkap Ratu Tiara Putri (yang wa sadari memiliki visi dan misi yang cukup berbeda namun tetap mengarah pada tujuan yang sama tanpa menghilangkan ciri khas dari viis dan misinya sehingga tidak dapat dengan mudah dileburkan ke dalam visi dan misi KPH 1) unjuk gigi. Wa denger-denger dia ingin membuktikan bahwa komunitas “gaul” pun dapat berkontribusi bagi SMANSA, dan wa bener-bener appreciate ide itu. Dia terbukti menjadi KPH yang nggak keliatan tegang dan mampu mengefektifkan kampanyenya (tak lain juga karena dukungan yang benar-benar meriah dari angkatan Benteng Batu), meskipun ada beberapa gangguan kecil (ada yang modus, [tetep] ada yang mencecar, dll.) dalam kampanyenya, salah satunya berupa pertanyaan mengapa dia [seolah-olah hanya] didukung oleh satu jenis ekskul, yang maksudnya mengarah kepada rasisme. Jujur aja, wa pikir pertanyaan ini rada stupid untuk diutarakan kepada Ucrit, karena apabila kita memperhatikan baik-baik salah satu faktor pendorongnya menjadi KPH yang telah wa sebutin di atas, kita bisa melihat bukti nyata bahwa Ucrit alih-alih rasis malahan hendak menyatukan dan menyuarakan suara-suara baru di SMANSA. Memang KPH 6 nggak kepikiran sampai ke situ, tapi dia berhasil menjawabnya dengan baik, apalagi dengan dukungan angkatan Benteng Batu yang nampaknya makin meriah. Wa sendiri mengangkat kertas buram bertuliskan “KPH KEREN BANGET!”.
Hampir terakhir, karena KPH 7 (Munadzir Rahman-sp?) tidak masuk sekolah hari ini, akhirnya Rakhmat Qorib a.k.a. KPH 8 berkampanye. Melihat dia adalah satu-satunya KPH dari angkatan Meriam Baja yang berkampanye di GC, tentu saja semua dukungan dari angkatan Meriam Baja (yang jelas terlihat jauh lebih antusias menghadapi GC dibandingkan dengan angkatan Perisai Ksatria 2 tahun yang lalu) dilimpahkan kepada KPH 8.
Namun tetap saja, KPH 8 yang tangannya terlihat gemetaran tadi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, dia sangat percaya diri, rendah hati, dan mampu berargumen dengan baik, namun kekurangannya meliputi ketidaksopanannya (apalagi ketika dia menarik keluar sebagian dari pakaian dalamnya untuk membuktikan bahwa dia tidak memakai kaus oblong, melainkan kaus dalam biasa), kepolosannya (ketika dia mencoba “menghibur” semua hadirin GC, yang bener-bener nggak entertaining buat wa – malah malu-maluin), dan kekurangannya akan pengalaman (yang dapat diperbaiki seiring berjalannya waktu). Meskipun begitu, wa juga mengapreesiasi semua potensinya tadi, apalagi karena dia masih duduk di kelas X (which means, there will be another year for him to build up his strength and fix or find solution to his weaknesses).
Setelah itu, akhirnya Sidang KPH pun dimulai (ditandai dengan turunnya para KPH dari lantai 2 ke altar kampanye oleh instruksi Miya), dan saat itu, wa cuma bisa ngangkat kertas buram “SABAR YA..!” karena wa nggak isa bilang semua KPH itu keren banget atau biasa aja atau malah wutut. Wa harap, sih, isa bermanfaat, apalagi ketika masing-masing kelas XII mengutarakan kembali penilaiannya kepada para KPH. Wa pribadi, sih, bisa percaya sama KPH 1, 4, dan 6, tetapi belum bisa percaya sama KPH 2, 3, dan 8, apalagi kepada KPH 5 dan 7, namun karena di sana yang disuarakan adalah keputusan kelas, akhirnya dikatakan oleh Hafizh bahwa kelas XII IPA 6 tidak dapat percaya kepada KPH, apalagi karena visi dan misi KPH 5 yang diserahkan kepada kelas XII IPA 6 masih abstrak, sempit, dkk. yang wa anggep cukup berbahaya karena tadi pada kampanye KPH 5, Sena udah terlanjur bilang kalo dia bisa sedikit percaya sama KPH 5. Yea, contradictory sentences are very dangerous. Ditambah lagi Adam yang berhasil “menguliti” para KPH, mengingat amanah kelas XII IPS yang hilang, maka wa bener-bener kasian ama para KPH, meskipun wa tetep teriak “BELUM!” dan menggelengkan kepala wa ketika Murai bertanya kepada angkatan Perisai Ksatria, “apakah angkatan Perisai Ksatria dapat memercayai para KPH?”
Pada bagian ini, wa merasa bahwa nampaknya para KPH (atau setidaknya KPH 1) benar-benar menerima pesan yang didapat dari kelas XII IPA 6 kemarin, yakni apabila sebuah peraturan sangat menghambat kemajuan, maka janganlah ragu untuk mendobrak peraturan tersebut; alias jangan kolot dan “nunut” aja. Karena wa bener-bener udah bisa melihat bahwa ketika BPPKO mempermasalahkan peraturan “dilarang membawa atribut lain selain ID KPH [dan pakaian yang pantas]“, maka salah satu KPH akan menggunakan pesan itu untuk membantah argumen BPPKO. Eh, bener aja, KPH 1 mencoba menggunakan argumen itu. Wa memang akhirnya nanya ke Reza, ketua BPPKO, sih, mengenai fungsi aturan tersebut (apakah itu hanya ada untuk menjebak para KPH atau memiliki fungsi tambahan), dan memang sudah menjelaskan ke Ghiland kalo sebenernya aturan tersebut alih-alih menghambat kampanye para KPH, justru malah ada untuk mempermudah kampanye para KPH (karena sebenarnya para KPH agak kerepotan apabila harus mengenakan dan/atau membawa minimal 8 bentuk amanah), dan karena itu, tolong jangan didobrak; tapi wa harap semua KPH juga menyadari hal ini, karena wa [yang bener-bener nggak ragu untuk mendobrak apapun yang menghambat wa dengan cara yang wa pandang baik] nggak pengen kalo pesan dari kelas wa disalahartikan menjadi janganlah ragu untuk mendobrak semua peraturan yang [kelihatannya] tidak sesuai dengan atau mempersulit saya.
Hebatnya, langit pun menjadi gelap dan akhirnya Sidang KPH ditunda karena kebanyakan hadirin GC perlu shol’at. Tentu saja, mood yang sudah dibangun tadi menguap cepat, dan karena kertas-kertas buram wa hilang dan kehujanan, akhirnya wa mengambil 2 lembar kertas buram baru dari TU (gratis, lho #ea) dan menuliskan kalimat “KPH TETAP KUAT!” dan “Tut mir leid und viel G’luck!” (Bahasa Indonesia: “Maaf dan semoga berhasil!” #deutschabal), semata-mata karena wa merasa bahwa nggak mungkin ada adegan dalam sidang yang memungkinan semua KPH terlihat keren dan sudah waktunya untuk berhenti bersabar dan menunjukkan kekuatan para KPH yang sebenarnya.
Untungnya setelah sekian menit ngaret, mood tadi agak kembali dan akhirnya Sidang KPH kembali berjalan. Menghadapi cecaran angkatan Perisai Ksatria, muncullah pembelaan-pembelaan dan dukungan-dukungan dari angkatan Benteng Batu dan Meriam Baja. Memang salah satu di antaranya cukup berbahaya (Novi mengatakan bahwa para KPH sudah berusaha maksimal – yang jelas dapat dibalikkan dengan argumen: “Jadi hanya segini kemampuan KPH? Kalau penampilan dan usaha maksimal mereka hanya sebatas ini, maka layaklah angkatan Perisai Ksatria benar-benar memvonis mereka tidak pantas menjadi KPH,” so be careful in using superlative), namun setidaknya mereka sudah mencoba dan para KPH pun berhasil persisted on defending themselves melawan permintaan Adam dan angkatan Perisai Ksatria untuk turun dari jabatan.
Persistence para KPH tadi terwujud dalam pembelaan dan akhirnya Dani, ketua angkatan Perisai Ksatria, angkat bicara dan meminta para KPH itu melakukan simulasi kecil. Simulasi ini sebenarnya sudah terbaca oleh Arin yang memerintahkan kabinet OSIS yang tengah menjalani masa regenerasi untuk membimbing hadirin GC berbaris membentuk rantai manusia dari lapangan dalam ke aula di lantai 4 supaya mereka dapat memindahkan lambang kabinet OSIS mereka, Pionir (shouldn’t it be only “Pion” or “Peon” because they’re refering to a black [horseless knight] chess piece or perhaps “Pioneer” that means “Pelopor” in Bahasa Indonesia?), yang wa akui bener-bener bagus (berdasarkan asumsi wa atas elemen-elemen yang tergambar dalam lambang yang akhirnya sempat dipasang pada papan triplek sebelum simulasi dimulai supaya tidak mudah patah), dari lapangan dalam ke aula tanpa gerakan yang berarti dari KPH. Namun entah mengapa kabinet OSIS yang tengah menjalani regenerasi tidak begitu mematuhi instruksi itu sehingga momen gaje dan sibuk sendiri pun terjadi. Untungnya hal itu tidak berjalan lama dan akhirnya ketiga angkatan yang saat itu tengah belajar di SMANSA benar-benar membuat rantai manusia dari lapangan dalam ke aula dan simulasi tersebut berhasil dengan baik.
However, suddenly comes the funny part, where instead of making their oath, the KPH just ordered the batches to sing SMANSA Hymn shortly. Of course, this moment had gone outta control of the BPPKO and looks like the KPH mistook my hand gesture as an order to get down to the altar with their cabinet’s logo. I’m sorry if that’s the case, but in the end, the KPH finally made their oath and after that, the BPPKO officially ordered SMANSA students and alumni to sing SMANSA Hymn. Woohoo! It finally ended!
Then again, I know that the KPH and the Avion cabinet had a kind of sharing session and some things have been made clear at that time, but actually, I didn’t feel that the pseudo-”devide et impera” strategy that I used to enlight a certain batch’s attention to the GC has been clear enough, and I also want to explain my attitude throughout the GC where I seemed to be situationally antagonistic but also slightly supportive. It simply means that when you’re encountering a problem, while perhaps most of your cabinet can only give some simple aids, you have to be aware that the closest aids can come from anyone, even the ones you don’t even expect.
As some already realized, I’ve given the KPH my last two dim sheets (the ones containing “KPH TETAP KUAT!” and “Tut mir leid und viel G’luck!“) as short messages from my batch, because I believe we’ve hurt the KPH in one way or another, and because I also believe that at least a leader has to be able to stand tall when everyone is down, if you get what I mean. Also for the ones who kinda felt that they’re being condemned in this post, just don’t be, because I believe in one’s capability to change. So, keep be positive, strong, and honest. Go with Pionir and I hope I can close my year in SMANSA with a glorious scenery of better generation below.
Food, God, Love
Hari ini adalah hari ulang tahun Annisa Lalitya Mumtaza, anggota Exquisite yang kayaknya sering banget jadi teammate wa juga sahabat wa yang [mungkin] paling wa percaya setelah Tuhan. Wa begadang and nungguin ampe 23.59, terus ten seconds countdown and pas 00.00.00, wa langsung post birthday greeting wa via twitter. Maklum, pulsa belum diisi
Ok, tapi, bukan itu yang mau wa bahas kali ini, melainkan sebuah film yang baru masuk Indonesia hari ini, yakni: “Eat, Pray, Love”. Film ini adalah film buatan luar negeri yang sempat mengambil Bali sebagai salah satu lokasi shooting mengingat tokoh utama dari film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini pergi dari New York ke Italia, terus ke India, dan terakhir ke Bali, untuk menemukan kembali cita rasa hidupnya yang hilang setelah bertahun-tahun hidup bekerja dan terjebak dalam hubungan romansa yang kurang nyaman.
Dapat dikatakan, film ini cukup bagus buat orang-orang yang mengalami nasib serupa (merasa hidup itu hampa, pengen liat pemandangan bagus, lagi putus cinta, mau move on atau recover, dll.), dan awalnya wa nggak mikir kalo film ini memiliki korelasi dengan wa.
Tentu saja, asumsi wa itu salah ketika seorang tokoh di akhir-akhir film (di Bali) yang bernama Felipe diperkenalkan. Awalnya wa nggak begitu merasa bahwa Felipe ini kenapa-napa, tapi begitu wa ngeliat beberapa aspek dari dia yang sama ama wa (painful love experiences, afraid in getting hurt again, skepticism to love, dll.), dapat dikatakan wa mulai memasuki film itu dengan lebih intense, meskipun akhirnya wa dapat melihat beberapa perbedaan yang mampu menarik wa keluar dari film itu, pada akhirnya. Namun, memang, begitu wa merasa bahwa Felipe dan wa memiliki kecocokan, wa sempet mengharapkan film ini memberikan remedy ke wa, begitu Ketut (tokoh lainnya dalam film ini) menunjukkan bahwa Felipe masih belum mau membuka hatinya untuk menerima mencintai karena takut terluka lagi, dan wa sempet kecewa begitu jawabannya adalah perlunya trust, yang menurut wa, kurang dapat wa aplikasikan, terutama karena wa nggak begitu tahu, kepada siapa trust ini perlu aw berikan.
Oke, that aside, film ini tetep bagus, dan wa memberikan nilai 4,4 dari 5, dan mendedikasikan post ini untuk film ini dengan membuat judul yang merupakan barang-barang yang dicari Liz (tokoh utama) dalam masing-masing pencariannya di Italia (food to eat), India (God to pray upon), dan Indonesia (love as the main point of all).