VERSE 1

One day
Is a great day
My day
As I’ve been waiting for today
for this is not only my day
but also my lover’s day

Be grateful and sang along
A joyful hymn for all day long
For my report card has been written
And my works have been fairly payed off

Lest ever my smile withers by time I see you
Lest ever my smile withers by time I read you
For my smile will only blooms for you
For my smile will only blooms by reading you

None was perfect
But by your dark figures in multitude,
I could already smell perfection
That by your values I would be made even whole
That by your love I would became even greater

Points and values, all written in numbers
But know that my love is not in numbers
For my love won’t be eternal in numbers
But it would be greater than numbers

Spell “ten” in a second
Spell “perfection” in two
But I believe I couldn’t spell “love” in three
Because my love is forever
Written within your heart
Unlike this paper that will fade away
My love shall be with you ’til the end of day

___

VERSE 2

It’s burning
All burning in red
By your fire so does my love
Burning in the hottest flame

It’s fierce, how you smote me
It’s hard, that you slapped me
For wild, is your love for me
And destructive is my lust on you

Recalling those memories with you
Has reburn my spirit with your love
Though I know what’s past is past
And I should have be ready to move forward

Yet again, as my day had come
and by this accursed report card
which you have read upon
I believe you might know that I am indeed
Not the philosophical type
Nor the intellectual type
But am indeed the practical type
Simple and efficient, I am

I don’t write poems
nor read one of them
You are the proof of my actions
Where I could always lend you a hand when you need one
And for all that,
Am I not enough?
Despair, you have brought upon me
Dumped me, and you are aware of what you did
It’s fine if my achievements failed me
But don’t you think it’d ever bring me any good
when your words failed me?

Utter destruction has indeed followed me
Now that in my footsteps, are fiery scents
And soonafter you dumped me
Another flame burned me inside out
Therefore don’t mind me trembling here
And don’t bother to look at me in the eye
For before you I have stood
And before you I have been dumped
Yet before you I might be standing
That one day
before you I will be redeemed

Spots, spots, spots,
and dots, dots, and dots,
upon my clothes, that we all see
as a mark of beauty, of art, and of decree

But marks, marks, and marks,
with numbs, numbs and numbs,
upon my soul, the very thing unseen
as a trademark of sin, slavery, and bad deds

Compared to the me outward,
evil is me inward,
while the beauty walks the courtyard
within the dungeon the beast stalks

For my life is not more for love
for the art was too much for one to boast
therefore as my heart’s door closes
I believe that I’m not yet ready for your love

Well, udah lama wa ngga nge-post lagi, nih. Hmmm, mungkin udah berapa bulan nih blog wa neglect (well, wa juga ngga blog walking, sih, jadinya ngga tau what’s going on with the people around :) ) *slapped*).

And karena sebentar lagi akan berganti tahun, maka sudah jelas wa di sini untuk merayakan tahun baru *slapped* nge-post tentang resolusi setahun ke belakang ini, yaitu tahun 2009.

So, yang kuat buat baca resolusi yang… yea, wa sendiri ngga tau nih resolusi bakalan kayak gimana =)) *slapped for real* … yea, pokoknya baca aja dah :) ) kalo minat =)) *kabur*

OKE, TAHUN 2009, TUH…

First of all, yang wa inget tentang tahun 2009 ini adalah, wa mulai visible lagi. Maksud? Yea, jadinya wa mulai terlihat lagi, kasat mata, gitu *stomped* oke, maksudnya wa mulai membuka diri. Ngga tau kenapa, kayaknya semester 1, tahun 2008, wa, tuh, invisible, ansos, *yea, masukkan kategori serupa lainnya di sini*
Well, wa ngomong kayak gini bukannya tanpa bukti, tapi waktu itu wa inget banget si E ngobrol bentar – singkat banget, cuma pertukaran 2 baris, kalo di naskah drama – and ujungnya si E ngomong: “Wah, ini pertama kalinya wa ngomong ama Male,” or something like that. Pokoknya intinya itu, and waktu itu wa sadar:

Oh, iya, ya… kayaknya wa baru pertama kali juga ngomong ke si E… padahal kita classmate! XD *slapped*

Yup, so, tahun 2009 adalah tahun di mana wa membuka diri, bahkan ada beberapa orang yang bisa dijadikan saksi kalo pas semester 1, tuh, wa serem, gloomy, yea, or things like that :) )
emang ngga salah, sih ;) )
And ini ngebawa kita ke event ter-so sweet buat SEDUCTION (in my PoV), yaitu PASIR (PentAs Seni akhIr semesteR <– yea, tau, lah, kalo SMANSA suka MAKSA <– bahkan bunyinya [SMANSA ama MAKSA] pun mirip! *whacked*). Bukan karena skenarionya yang emang so sweet, tapi juga bagaimana kita, anggota SEDUCTION ini bisa bahu membahu, pundak memundak, mengerjakan proyek PASIR yang kayaknya telad banget dikerjain, borosnya bukan di properti, tapi di dubbing XD *slapped*, etc. Oke, wa ngga lupa kalo kita pernah ampe terpecah menjadi 3 kubu pas PASIR (Kubu X, Kubu Y, dan Kubu Z *slapped*), tapi semuanya terbayar, kan? Kita dapet juara 3 buat PASIR, setelah dibandingin sama kelas-kelas laen yang kelihatannya lebih keren properti, scene, latar, koreografi, and lagu-lagunya. Wa ngga lupa tentang puisi wa (dual poem kalo ngga salah dengan hidden meaning yang kental [ada yang tahu hidden meaningnya?]) pas katanya SEDUCTION mau dipisah. Wa ngga lupa bagaimana ada aliansi unofficial untuk menyatakan petisi ke sekolah buat menentang mosi re-shuffle kelas. Semuanya coming back begitu wa ngetik resolusi ini (bukan berarti wa lupa pas wa ngga ngetik resolusi, ya! XD cuma ngga ada waktu buat nginget <– sok sibuk *whacked), and meskipun wa ngga lebay and bombay, dan juga ngga merasakan ada kehangatan tersendiri di dada wa, tapi wa ngerti, kok, bagaimana ini adalah tahun yang berarti :) Buktinya wa sudah merasakan beberapa teman di antara kalian (SEDUCTION); pernah ada yang putus hubungan sebagai teman, sih, tapi udah balik lagi sekarang :D ; ada juga temen-temen baru dari berbagai kelas (di luar SEDUCTION); mungkin semua orang-orang tersebut juga ngebaca tulisan ini sekarang, so I just wanna say: it’s nice to have you, guys.
So, jadi ganti nama ngga?

NONTON? WHY NOT!

Oke, wa sebenernya lupa kapan wa mulai addicted to go to the cinema (jangan tanya ngapain!), so wa masukin aja ke sini *stomped* Jadi pokoknya jelas tahun 2009 ini adalah tahun di mana wa paling sering nonton. Bahkan, FYI, pas mau tahun baru (Desember 2008), wa udah nge-list film-film yang release tahun 2009 sepanjang tahun yang bakalan wa tonton (credits to: wikipedia :thumbsup: :cling:). Beberapa berhasil wa tonton (woohoo!), beberapa ngga jadi ditonton (yea, udah keburu males, sih *kicked*), beberapa ngga sempet nonton (crap!), beberapa ngga bisa ditonton (T_T) – jangan tanya list-nya isinya apa aja (udah dihapus)!
Well, kayaknya norak banget, ya? And yang lebih noraknya lagi, wa udah ngebikin list film yang release tahun 2010 yang mau wa tonton~! XD *kicked* bukan itu, it’s fine for me to have a must-watch/watching list, but what I really mean is: wa akhirnya bisa nyobain studio 3D itu kayak gimana! XD *kicked for real* Yup, tanggal 21 Desember 2009, wa nonton film 3D pertama wa, Avatar – yang keren abis! Honestly, wa cukup ngerasa 3D studio’s just a waste of money, so I don’t feel like going there anymore *beheaded*

WE ARE GOLDEN XQS!

Yup, buat anak-anak XQS, pasti udah pada tahu yang ini tentang apa. Yup, wa masih inget kalo gara-gara XQS, banyak hal terjadi dalam hidup wa. Contohnya: Wa akhirnya bikin WP cuma buat post tentang EUFOR and karena tahu si Digun punya WP juga *slapped* oke, bukan itu, tapi bagaimana kita bisa solid, and hang out together, and many more (makin lama makin gaje? *stomped*)… well, yang mau wa sampaikan adalah:

… yeah, I remember our first debate; EUPHORIA at DwiWarna. I remember the Ayub incident *slapped*. I remember the dinner in Pizza Hut; about our promise to dine again as a winner. I remember about how we were so GD impressed with the Cisauk guys (yow, you, guys! Are you reading this? *whacked*); yeah, the three of them. Then I remember about our second debate, which is either ENTHUSIASTIC at SMANSA, or ALSA 13th E-Comp at UI – I forget (tho’ I think ENTHU comes first). I remember our first INTERNAL trophy (however, it’s still a trophy, rite?! XD). I remember about ENTHU’s frigging final round (no hard feelings, guys =)) =)) =)) *whacked*). I remember about our grudge with RP; to compete against them again (or was it my grudge? XD *stabbed*). I remember about the deathly sentence when we’re against the ISDC’s besties too (sorry, Ica)!! XD I remember how I didn’t respond when I know that the guys I was facing were 3 of 9 ISDC best speakers. Yea, I remember how fool I was back then XD I remember the dancing POI against SMAN 81 Jakarta. I remember that our scores in ALSA E-Comp were just tight. I remember how we hanged out and watched movies and had dinner or lunches when good movies’re around :) ) I remember that I’m always in a same team with Ica :) ) I remember our last competition this year; IAAS 2nd OLYMPIC at IPB. I remember how finally Hafizh, Tita, and Ola, beat the Cisauk trio for the first time (thought luck, guys :D ). I remember meeting the debaters from Petra Surabaya, yea, Armando was the only name that stuck, so sorry for the other two XD *whacked* I remember how fierce the grand final round was. I remember the debating styles that I’ve faced before. I remember our first EXTERNAL trophies. I remember our first 3 million $_$ *slapped* I remember our jacket designs (whose fate is still unclear *stomped*). I remember the LOs that had escorted us in those competitions. I remember that Hafizh, Tita, and Digun, went to Bandung as Bogor’s ISDC contestants. I remember about a certain teacher that I hate to say his name here.

I remember about Adiguna Bahari
I remember about Aimanur Muharam Tohir
I remember about Annisa Lalitya Mumtaza
I remember about Ayip Fahmi Faturochman
I remember about Budiasti Wulansari
I remember about Hafizh Adi Prasetya
I remember about Tanita Dhiyaan R.

I remember about all of you, guys. Those who I recently had realized got a special place in my heart, esp for some of you *whacked* =))

Err, tadi cuma list “I remember” doang, ya? :) ) *kicked*

LET THERE BE LIGHT… AND SMOKES XD

Next ones, are: you, eASY term 2009/2010 members, representatives, committees, main committees, and chairman! :D
Yup, tahun ini – tepatnya setengah tahun ke belakang ini – kalian juga mengisi tempat-tempat kosong di dalam hati wa. Sebagai satu angkatan, kalian kuat, terutama buat angkatan Benteng Batu yang baru join, kalian udah nunjukin hard work kalian, devotion kalian, so, wa minta maaf kalo wa datengnya telat mulu, acuh ngga acuh, ribet sendiri, jutek, indifferent (eh, sama aja, ya? XD), leled, suka marah-marah, etc, etc, etc *masukkan komentar kalian sendiri*. Apalagi pas LMT yang rasanya masih bergaung di dalam rongga benak wa sekarang, pas wa ngetik resolusi ini ;) ) (yea, I still remember about how acted – though I couldn’t remember what I said XD)
Hal ini juga terutama buat kalian, adek-adek dan temen-temen yang sudah menjalani masa-masa PM bareng-bareng (dengan pengecualian beberapa orang *whacked*). Meskipun sekarang wa udah lupa siapa aja yang pernah jadi PM *stabbed* tapi ngeliat bagaimana kalian, yang mungkin belom tahu eASY itu kayak gimana ancurnya tapi udah berusaha hidup-hidupan buat staying alive eASY.
Thank you, guys, thank you. Mau make Bahasa Jerman? Boleh, boleh. Danke schon, danke :) ) Japanese? Domo, arigatou (Ami, bener ngga? :) ) *kicked*). Jujur aja, wa sekarang bisa tenang kalo taon depan eASY dilanjutin sama kalian (ea, emangnya udah mua lengser lagi? <– ketauan pengen cepet-cepet LMT lagi~ XD *pierced*). Just keep up your work, keep up your spirit (lha? jadi kayak Cathy? *slashed*), and keep do your best for eASY :)
Semoga semua proker kita bisa berjalan lancar dengan LMT yang makan hampir 1 semester *whacked* serta rumor yang mengatakan kalau semester dua nanti hari Sabtu kita sekolah lagi –a

7 FACES…

Bukan, wa bukannya operasi plastik 7 kali tahun ini, tapi ini tentang role-play.
Yup, so, pertama-tama wa mau mengucapkan terima kasih kepada a certain someone (namanya Bila) yang telah memperkenalkan wa pada dunia RP dengan serius. Sebenernya wa dari dulu udah pernah denger tentang RP, cuma waktu itu wa ngga dwell in seriously. Pernah sekali, di IAF (IndoAkatsuki Forum), and I enjoyed it, cuma ngga seribet pas wa akhirnya ngejeblosin diri ke IH (Indonesian Hogwarts) and ampe ngerencanain ngebikin 4 plot yang berbeda dengan membuat 7 OCs XD (yang akhirnya dimatiin semua, kecuali Trio Corvus XD *slapped*). Dari IH wa jadi lebih menghargai EYD, and lebih tertarik untuk mendalaminya dan dunia sastra dengan lebih serius. Wa juga bisa mengembangkan imajinasi wa.
And yang lebih mantebnya lagi, dari IH wa juga menemukan BOHQ (Black Order Headquarter) – mana waktu itu lagi addicted ama DGM, lagi, just perfect timing! XD So pasti wa langsung daftar, and akhirnya sekarang malah punya banyak OC di sana :) ) mulai dari Supervisor, General, Exorcist, Finder. Di sini (BOHQ), I believe I have a good time, and wa ikutan diangkat jadi SE (bukan Sarjana Ekonomi, tapi Staff Evaluasi! XD) yang cukup wa nikmati kerjaannya :D
Tapi, ternyata hikayat RP wa belum berhenti sampai di situ! Dari blog Herbology (entah punya siapa wa udah lupa), wa dapet link ke PW (Potter’s World) di mana wa daftar dengan sembrono sebagai Viktor Oldman XD *slapped* yang sekarang jadi inaktif karena wa masih grogi RP make Bahasa Inggris XD *stomped* Dan layaknya anak kecil belom kapok, wa sekarang berkeinginan untuk menjamah BTM (bukan Bogor Trade Mall, tapi Behind the Magic! XD), yang karakternya bakalan wa lanjutin ke Ardineu University of Magic; selain itu, wa juga udah punya chara di DW (Darkwall) yang registration post-nya tinggal di-post di forum yang bener-bener keren itu (sayang make Bahasa Inggris <– lom pede tea, ceritana, pan~ *stomped* :) ) ).
Sementara itu, tentunya wa masih akan sering nongol di BOHQ :)

Backstreet Boys! ;) )

Hampir klimaks! :D
Well, untuk poin ini, cukup dengerin aja lagu-lagunya BSB – yang lagi wa suka sekarang :) – and kalian bakalan tahu apa isi poin ini *sok misterius* *slashed*

Reborn from the glass dusts

Oke, buat poin ini, kayaknya yang ngerti (ato at least, tahu dengan bener) itu cuma si Ica doang, ya? :) )
Well, gini, nih, dari tanggal 23-28 desember 2009, wa cabut ke Bandung. Ngapain? Yea, emang bener, sih, wa jalan-jalan ke Riau (Jalan Riau maksudnya, yang ada Oasis, etc itu) and ke Ciwalk. Phew, cuma dibekelin duit yang ngga begitu banyak (baca: 40 rb), sih, jadinya of course (wew, ngga efisien –a) wa ngga beli apa-apa di Riau. Well, after all, tujuan wa ngambil pilihan City Tour 1 ini soalnya wa mau mini gath ama salah satu staff di BOHQ and nyari topi Al Capone di Ciwalk (sekalian nyolong wi-fi McD ntar *evil grin* *slapped*) …
OKE, OKE, STOP!
Poin ini bukan buat ngomongin semua “rekreasi” ini, tapi bahwa wa merasa revived di Sidang Perbauran Remaja Regional 2, 3, 4, 5, (Jabar, Jakarta, Jateng, Kalimantan, and Sulawesi). And di sini, banyak orang yang menarik, and guess what? Banyak orang yang ternyata mirip ama orang-orang di kehidupan sehari-hari wa!
Misalnya, ada seorang Ka Hartono dari Jakarta (H1) yang gaya bicaranya mirip Pa Set (kemayu-kemayu gitu – well, gara-gara wa udah ketemu ama dia beberapa tahun yang lalu pas wa masih di SMP; Terus ada Yudi dari Jakarta juga (H16) yang mirip ama Murai; Terus ada juga yang mirip ama botis (baca: Riefan)! Yea, tersebutlah seorang Stephen dari Bekasi XD sayangnya dia (Stephen) ngga se-botis Riefan, malahan, tuh, orang jenius abis. Bisa ngafalin lebih kurang 101 ayat [Alkitab], cuy! Lanjut lagi, ada Indra dari Cimahi yang mirip banget ama A Aufa! Yoi, anak OSIS WINDMILL pasti tahu, kan? ;) ) Terus, yang fans-nya BBF (Boys Before Flowers), ada juga yang mirip ama Kim Bum di sini, namanya Nicko Fernandez dari Jakarta (H16) XD Gokil, kan?
Oke, selesai ama look-alike cowo, sekarang yang cewe. Ada seorang cewe yang gaya rambutnya mirip Dwiarti Larasputri (wa ngga sempet nanya namanya) and ada juga yang mirip Salsabila Panji Arum (2-2-nya junior wa di SMANSA), terus ada juga yang mirip ama Tera Wednes Oktireva Harsa (yoi, Chairperson eASY ke-8) namanya Eden dari Makassar; Belom beres, ada juga Felicia dari Jakarta (H3) yang kayaknya merupakan pergabungan Erwina Salsabila (debater dari Cisauk) and Wanda (dari SMANSA) – komen buat dia, yea, of course, udah pinter (seorang penghafal ayat juga) cantik lagi. Manteb, dah XD (Well, di sini wa ngomong blak-blakan aja, oke?); Tapi itu semua baru di luar, wa ngga tau dalemnya, yang pasti ada seorang cewe yang kepribadiannya sama menyenangkannya seperti si Darisa Syahrini. Oke, ngga usah wa ceritain lagi buat junior wa yang satu ini, pokoknya, banyak hal menarik terjadi pas wa ada di Bandung. Meskipun jadwalnya super ketat and suara wa abis di hari pertama and ngga balik-balik (tapi malah makin parah) soalnya tiap hari teriak-teriak mulu, juga tidurnya kayaknya di barak dengan kasur gelar yang tipis and dingin (gokil, itu AC lebih dari 7 kayaknya ON semua semaleman!), tapi wa tetep dapet sesuatu yang sangat berarti di sana, yaitu wa makin cinta Tuhan and wa dibangkitkan lagi kondisi spiritual and fisiknya :) ) emang, dah, sidang-sidang kayak gitu manteb abis.
Well, ada juga yang ngga menyenangkan, sih, sekedar pemberitahuan, wa, tuh, adalah orang yang kurang suka ama pesulap, and cenderung merasa terancam kalo ada pesulap di deket wa. Nah, di kamar wa, ada semacam street magician gitu :) ) and, yea, malem-malem wa tidur rada ngga tenang (meskipun akhirnya jatuh terlelap juga) gara-gara takut dihipnotis XD XD Oke, ini rada garing (sorry peringatannya telad *hanged*).

Monochrome Labyrinth Ever After

Climax!!!
Oke, let’s skip this part *hanged*
Really, it’s not the part I could/would like to say in public~ XD
Perhaps, here I’ll say that it’s nice to have a fox around…
But I definitely can’t get away from my previous one;
Who had maddened me in such a way that I could never forget;
Yeah, I used to name her, Black and White
or should I call her…
6 5 2

___

Demikianlah resolusi tahun 2009 wa! :D Gimana? Ada komentar? Kalo ada langsung post aja!

Sekedar kata-kata penutup, pertama-tama, don’t freak out. I know my limits now, okay? Terus dengan klimaks itu sekarang semuanya udah ngerti, kan, kenapa judulnya “Monochrome Resolution”? Thanks for reading, and sekedar puisi super pendek penutup dari wa:

A year will pass
and the clock hands will move,
as the days will fold itself forward,
let us hope not for a brighter year ahead
but for a better living us
in this happy new year of twenty ten :)

I demanded strength to the Lord
so I might prevail in my work
He weakened me instead
so I might be humble and obedient

I demanded for health
so I might do bigger things
He gave defects instead
so I might do better things

I demanded for wealth
so I might be happier
He turned me poor instead
so I might be wiser

I demanded power
to make me a man whom people bow before
He gave me flaws
to make me a man in need for the Lord

I demanded everything
so this life could I enjoy
He gave me life
so everything could I enjoy

I gained nothing I demanded
but I received everything I needed
Against my will,
my unanswered prayers had been answered

Among everyone else, I’m blessed so abundant

Don’t you heard
the cry of a sad song;
the symphony of screams
that ruptures the very soul
of the forest imps,
when mankind steps on their
beloved, tranquil sanctuary,
and unleashed the scorching chain
of greed and lust of wealth
that bound the mother earth
into times of sorrow?

Why?
Did the smokes from the neighboring factories
has deafened your ears?
Did the sheets of paper before your eyes
has silenced even your very conscience?
Have you decided to let sinful hands
scarred the lands, tainted the oceans,
darkened the air we breathe everyday?
Have you been lamed by the force of
this “so-called modern age”?
Can’t you even smell the blood taints
in the river flowing through our cities?

Know that every patience but God’s has its end;
so I called you to repent
before our mother nature herself avenge
her kin by every drops of your blood.

Lovely lady
comes forward with ease
hides not your charms
for yours are not of an eye
but of an ear of men
a hymn that never ends

For you might be not the fairest
nor your eyes is superior than the hawks
or your skin which is delicate next to any
you might smell like a jelly
but it’s unclear what’s inside your belly
so for once and for all, if I may ask
sing a song for the one you loved

In the times of hardship when you tried to endure the most
on the days where rain would stop and drought swarmed the lots
from the past where we belonged
for once when we held hands together
in the face of the world we never sought before
when we cried out loud and sang joyful songs
the times that I missed a lot in the present times of gold

So, please, before the days gone black
and my eyes can see nothing but the dark
please sing the song for me just once
the song that is though none to Mozart
but is beautifully unmatched in my eardrums
your song of the heart

Indira menarik nafas dalam-dalam, dan terbatuk-batuk saat asap rokok yang mengotori udara menggantikan udara bersih di dalam paru-parunya. Dia mengusap matanya yang mulai berair dan menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.

Rutinitas sangat membebaninya. Dari jam lima pagi dia sudah duduk di bangku kereta yang keras. Bangku itu akan dia duduki hingga dia sampai ke Gambir dan melanjutkan perjalanannya melintasi kota Jakarta ke sebuah perusahaan percetakan, tempat dia bekerja sebagai seorang asisten editor.

Indira kembali terbatuk-batuk saat seorang pria yang umurnya mungkin sudah setengah abad kembali menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. Kesal tapi malas untuk menegur, Indira memutuskan untuk membuka jendela dan merasakan hembusan angin sepoi pada wajahnya yang letih. Akan tetapi suasana lalu lintas Bogor yang macet sangat mengecewakannya. Alih-alih merasakan sejuknya hembusan angin, Indira malah mengernyitkan keningnya ketika asap knalpot kendaraan yang berjejalan di jalan menghambur masuk ke dalam indra penciumannya.

Indira benar-benar letih. Dia butuh ketenangan, dia butuh relaksasi, dia butuh hiburan; dan hiburan itu hanya akan didapatkannya pada akhir pekan. Tidak penting memikirkan tempat yang akan dituju nanti, pikirnya, aku akan pergi ke manapun aku suka.

Udara yang begitu panas memaksa Indira mengambil botol kecil yang hanya terisi seperempatnya. Dibukanya tutup botol itu dengan tergesa-gesa, dan ditenggaknya air yang tersisa sampai habis; akan tetapi dahaga itu tidak hilang. Indira memasukkan kembali botol kecil yang sudah kosong itu, dan berbalik menghadap jendela sembari melepas pikirannya ke langit sore.

Indira!

Sahutan itu menyentakkan Indira. Siapa yang mengenalnya di tengah kemacetan ini? Dengan sedikit kalap dia melempar pandangannya ke berbagai arah, tetapi matanya tetap tidak menangkap orang yang tadi memanggilnya. Bahkan Indira tidak mengenali suaranya.

Indira!

Lagi-lagi suara itu memanggilnya. Indira sendiri merasa sedikit takut. Dia kurang suka kejutan, karena kebanyakan kejutan berakhir naas pada dirinya. Dia masih ingat sewaktu SD tidak ada seorang pun teman sekelasnya yang masuk kelas. Setelah dia cukup panik karena guru sudah berjalan ke kelasnya, teman-temannya menghambur ke kelas sambil menyanyikan lagu “happy birthday” dipimpin oleh ketua kelasnya yang membawa sebuah kue blackforest. Kejutan yang manis, memang, kalau kejutan itu tidak berakhir dengan terlemparnya kue itu ke wajah Indira karena sang ketua kelas terpeleset.

Masih banyak kejutan yang tersimpan di dalam memori Indira yang bisa dikenangnya dan ditertawakannya, kalau saja sekarang Indira tidak merasa terancam. Dia merapatkan pegangannya pada tas gendong yang dibawanya, dan melangkah turun dari angkot yang berhenti bergerak di atas aspal panas karena kemacetan, lalu mengambil uang Rp 2.500, – dari dalam tasnya.

Tiba-tiba sebuah tangan kecoklatan yang kekar merintang entah dari mana ke arah supir angkot yang sedang menunggu. Supir itu mengambil uang yang disodorkan tangan itu, dan kembali menekan klakson.

Indira segera menatap pemilik tangna kecoklatan itu. Dia adalah seorang pria berambut pendek yang kulitnya juga sama coklatnya dengan tangannya. Wajahnya terlihat familiar di mata Indira, tetapi dia masih tidak ingat nama pria tersebut.

“Hei, Indira, masih ingat aku?” pria itu menanyakan pertanyaan mautnya.

Indira gugup, dia menelan ludah dan memaksa memorinya bekerja dua kali lebih keras untuk menemukan identitas lelaki kekar di hadapannya. Diamatinya kaos abu-abunya, celana panjang jinsnya, hingga sepatu kulitnya; berharap sebuah tulisan akan muncul dari sana untuk menunjukkan kepadanya siapa nama pria itu.

Pria itu tersenyum kecil saat Indira masih bingung mencoba mengingatnya. Dengan ramah pria itu meraih tangan Indira dan membawanya ke trotoar. Indira ikut saja, dia tidak merasakan ancaman dari genggaman tangan pria itu. Dia merasakan kehangatan yang lama telah meninggalkannya. Akan tetapi dari siapa?

Sesampainya di trotoar, pria itu menatap Indira dalam-dalam, membuat wajah Indira merona merah. Ketika Indira berpaling, pria itu angkat bicara.

“Ini aku, Bayu,” katanya dengan suaranya yang sedikit serak.

Indira langsung menatap Bayu dan memorinya dengan cepat menunjukkan berkas dengan nama Bayu Prabowo. Saat itu juga, semua kenangannya tentang berbagai kejutan yang telah dialaminya – yang kebanyakan berakhir kacau – melanda benaknya. Dia ingat. Dia ingat sekarang. Di dalam semua kejutan itu,; semua kekacauan itu, Bayu pasti selalu berdiri di depan. Pasti selalu dia yang mengacaukannya. Dia heran kenapa dia tidak teringat akan Bayu, teringat akan semua kejutan yang pernah dirancangnya.

“Sekarang kamu sudah ingat, kan?” tanya Bayu sambil tersenyum.
“Ya, aku sudah ingat,” jawab Indira mantap sambil tertawa kecil.
“Nah, kalo gitu, sekarang aku ada di sini untuk…?”
“Hmm – mungkin – kejutan?”
“Haha, kalau sudah tahu, ayo ke mobilku!” ajak Bayu sambil menunjuk mobil yang terparkir di sisi jalan di ujung barisan kendaraan yang terjebak macet.

Indira dan Bayu pun segera pergi ke mobil merah tua itu, masih bergandengan tangan.

-o-o-o-

Sepanjang perjalanan, Indira tidak membuang-buang waktu. Dia membombardir Bayu dengan pertanyaan tentang kehidupannya setelah SMA, pekerjaannya sekarang, dan banyak hal lainnya, yang hanya dijawab Bayu sekenanya, seperti, “aku kuliah di IPB…,” atau hanya dengan senyuman penuh arti. Terkadang Bayu juga tidak merespon pertanyaan-pertanyaan Indira. Akhirnya, Indira sendiri kehabisan pertanyaan dan terpaksa terdiam dan mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

Mobil Bayu meluncur santai menembus padatnya lalu lintas kota Bogor tanpa suara. Benar-benar tanpa suara. Indira sendiri heran, kenapa mobil yang lumayan besar ini sama sekali tidak bersuara. Bayu hanya menjawab kalau dia sudah mengganti mesinnya saat Indira bertanya kepadanya.

Tiba-tiba, mobil Bayu menepi di dekat pintu masuk istana Bogor, di depan gedung gereja Zebaoth. Indira menatap Bayu heran, akan tetapi Bayu hanya mengambil sebuah tas kecil dan menunjukkan sebuah kain penutup mata berwarna hitam.

“Ow, kamu tidak akan menyuruhku memakainya, kan?” tanya Indira.
“Haha, tentu saja kamu harus memakainya. Kalo ngga, di mana kejutannya?” jawab Bayu sambil terkekeh.
“Kamu serius?”
Bayu mengangguk mantap.
Indira mendesah pelan dan berkata, “baiklah, tapi jangan lama-lama, ya? Kamu tahu aku kurang suka gelap.”
“Haha, sebentar lagi gelap, koq,” timpal Bayu sambil menutup mata Indira.

Dan memang jam pada dashboard mobil Bayu sudah menunjukkan pukul 18.40 WIB.

-o-o-o-

Setelah menutup mata Indira, Bayu menjalankan mobilnya lagi ke pintu A Kebun Raya Bogor. Dia melangkah turun dan menunjukkan KTP-nya kepada kedua satpam yang sedang berjaga dan saat itu juga kedua satpam itu segera membuka pintu dan mempersilahkan Bayu masuk. Bayu tersenyum puas dan melirik ke langit sore yang mulai menggelap, sesaat sebelum dia masuk ke dalam mobil.

-o-o-o-

“Hei, sudah sampai belum?” tanya Indira yang sudah mulai panik.
“Haha, sudah, sudah. Ayo, sini kutuntun,” jawab Bayu santai.
“Hah? Masih perlu dituntun? Memangnya tempatnya sejauh apa?”
“Sudah, ayo ikut,” kata Bayu lagi sambil membuka pintu mobil dan menuntun Indira turun.

Mereka berdua berjalan seperti pasangan yang canggung. Bayu terlihat bersemangat, sedangkan Indira terlihat sedikit pucat sambil meraba-raba jalan di dalam kegelapan – yang tentunya tidak diperlukan karena Bayu menuntun setiap langkahnya. Setelah berjalan memutar dan menuruni tangga beberapa kali, akhirnya pasangan itu berhenti di bawah sebuah pohon, di dekat tunggul yang telah dimodifikasi menjadi sebuah kursi.

“Oke, duduk di sini,” kata Bayu.

Indira menurut. Bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa dia lakukan?

Dan tanpa menghitung dari satu sampai tiga, ataupun memberi aba-aba atau peringatan, Bayu membuka penutup mata Indira. Beberapa detik yang singkat terbuang untuk pembiasaan mata, dan Indira langsung terperangah melihat kejutan yang sudah dipersiapkan Bayu kali ini.

Pohon besar di hadapannya menyala kehijauan di bawah gelapnya langit malam. Cahaya temaram dari setiap lentera plastik yang tergantung di setiap cabang pohon itu seolah-olah menghisap cahaya kuning dari lampu-lampu mobil di luar kebun raya. Pohon itu seolah-olah memancarkan aura gaib yang menghipnotis semua pemandangnya. Membisukan mereka dengan cahaya hijau temaram yang selalu bergerak, membuat bayangan-bayangan setiap cabang yang saling menimpa satu sama lain, menimbulkan kesan kalau pohon itu bernafas. Pohon besar itu hidup dan bergerak dalam gerak lambat. Rerumputan di sekitarnya pun bergoyang sesuai irama tarian cahaya hijau dari pohon itu dan kolam di belakangnya memantulkan cahaya hijau yang lebih gelap dan magis seiring berjalannya malam. Jika orang ingin melihat alam Yggdrasil, mungkin mereka bisa puas setelah melihat pemandangan ini.

Indira sendiri jatuh terduduk di hadapan pohon itu. Setitik air matanya mengalir, bukan karena dia mengantuk ataupun letih, melainkan karena hati kecilnya tersentuh oleh pemandangan ini. Pemandangan yang tidak akan dilupakannya seumur hidupnya. Dia sedikit menyesal meninggalkan tasnya di mobil Bayu. Jika dia membawanya, mungkin pemandangan ini akan diabadikannya melalui kamera ponselnya.

“Ngga perlu menyesal. Sihir alam hanya bisa dirasakan melalui keajaiban waktu dan indera manusia, bukan dengan gambar statis yang hanya bisa merekamnya selama sepersekian detik. Nikmati dan lupakan semuanya,” kata Bayu pelan.

Indira menoleh untuk melihat Bayu, akan tetapi yang dia temukan hanyalah ponselnya yang sedang terhubung dengan ponsel Bayu. Bayu telah menyalakan fitur loudspeaker sehingga tadi Indira mengira dia masih ada di sana.

Indira tersenyum dan mengambil ponselnya. Dimatikannya fitur loudspeaker dan didekatkannya ponsel itu ke telinganya. Setelah membasahi tenggorokannya dengan ludah sekadarnya, Indira berkata, “Bayu, makasih banget, ya. Ini keren banget.”

“Haha, tidak apa-apa. Jangan lupa kado ulang tahunmu kuletakkan di bawah pohon itu. Masalah pohonnya, ini adalah kado dari teman-teman kita semasa SMA,” jawab Bayu yang sedang mengemudikan mobilnya keluar Kebun Raya.
“Hahaha, baiklah, akan kuambil nanti…”
“Kalau begitu, happy birthday, Indira,” potong Bayu sebelum menutup panggilan tersebut.

Indira hanya bisa tersenyum saat panggilan itu tertutup. Sekali lagi dipandangnya pohon besar itu dari ujung atas sampai ke akarnya yang kokoh, lalu ditariknya udara malam yang sejuk dan bersih ke dalam paru-parunya. Saat dia menghembuskannya, dia tahu kalau sihir ini tidak akan dilihatnya lagi, akan tetapi Bayu telah memberikannya arti dari perhentian yang sesungguhnya. Matanya mulai terasa berat dan udara dingin menusuk tulang, tetapi Indira hanya duduk dan tersenyum menatap pohon besar yang memancarkan cahaya kehijauan yang dinamis. Kejutan ulang tahun yang manis dari cinta monyetnya.

___
My First Short Story :)
Inspired from the Headline: “A Woman Died in A Weird Forest Fire in Belarus:) )

The world paused around me
as you slapped me in front of everyone
I am confused and petrified
I can’t think, I can’t breathe

I wonder why you did it
and I remember, that I’m unable to think anymore
in this time-paused world
I felt nothing but the nothingness itself

But I can remember! I can recall
those moments of hard work; of tear; of confusion;
of laugh; of party; of shame; of everything!
I can recall every single one of them
I can recall every single inch of your face
I can recall how loud we shouted together
I can recall them all
I can… through an unknown mechanism within

And those moments taught me many things
and I know that one day, there will be time
when we clash; fighting for the highest throne

Don’t you know, just thinking it aches my heart?
Don’t you know, I am ready to oblige under your wings?
My hands are ready to sweat for you
My blade is ready to bathe in blood for you
Every single joints in me are ready to move when you say a word
Every single voice ever spoken are ready to shout when you give a sign
I am ready to be your ninja
to be the dark assailant, something none would like to be

And for all of that, you slapped me?
We were born under the same knighthood!
We’re all fit to be the successors!

spoken words are true, indeed
can’t rebut it, yet wouldn’t take it
but now, I take it
I take it now, as the world moves on

Let us fight among the bests of the bests!
Let us claim our throne!
I’ve taken it now,
what about you?

Oke, pasti semuanya pernah denger kalo 30% dari personality manusia berasal dari orang tua, sedangkan 70% sisanya dari lingkungan.

Nah, pernah, ngga, mikir 30% ntu apa aja? Mungkin yang keliatan jelas (Fenotip) bisa dilihat dari fisik. Ada yang fisiknya frail gara-gara bokap jarang olahraga, ada yang wajahnya ganteng gara-gara nyokab sering operasi plastik (hubungannya?), etc; Tapi sebenernya 30% ntu ngga cuma yang keliatan di luar aja, kan?

Oleh karena itulah wa nge-post kali ini :) untuk membuktikan kalo bagaimanapun juga, manusia ngga akan lepas dari kata “Genetik.”

Oke, jadi gini aja, biar gampang, wa akan memberikan diri wa sendiri sebagai contoh (bukannya pengen narsis, ya). Jadi, setelah mengamati tingkah laku orang tua wa selama beberapa saat (wa lupa berapa lama), wa bisa menyimpulkan bahwa:

Sifat/Pembawa
Fondness to Death/Both
Fondness to Number 13/Both
Cacat Mata/Both
Plainness/Pa
Fondness to Literature/Pa
Recklessness/Pa
Tendency to Act Like a Loner/Pa
Fondness to Philosophies/Pa
Tendency to Act Radical/Pa
Intense Love to God/Ma
Stubbornness/Ma
Tendency to Think Critically/Ma
Will to Fight over Injustice/Ma
Strength to Carry On/Ma
Fondness to Genetics/Ma :D

Nah, dengan begini bisa dilihat, kan, kalo ternyata 30% ntu ngga cuma sebatas yang di luar, tapi juga tembus ampe ke dalem :D

Bahkan dengan lebih mengenal sifat yang diturunkan oleh orang tua kita, kita juga akan lebih sayang ama mereka, karena kita merasa dekat; merasa mirip; merasa tidak sendiri :)

____
wew, gaje abis, dah, wa =))

Oke, langsung aja wa mulai.

Hari ini wa cabut ke skul buat kumpul bentar, terus wa ke kantor Telkom di Pajajaran (ato apalah, nama tempatnya :P ) buat bayar Speedy.

Di sono, wa dapet urutan nomer (masih wa simpen ampe sekarang) and dapet nomer “670“. Wow, hari ini emang hari terakhir bayar Speedy, jadi wajar kalo misalnya banyak banget yang dateng. Tapi wa sama sekali ngga nyangka kalo misalnya yang dateng ntu ampe 669 orang lebih.
Oke, wa bisa sabar. Wa pergi ke ruang pembayaran, and di sono wa ngeliat tulisan merah berpendar yang menunjukkan kalo nomer yang terdiri dari angka 6, 7, dan 0. Wa senyum-senyum sendiri, soalnya nomer yang tertera di sono adalah 067.

Udah gitu server Speedy pake acara error segala, lagi. Akhirnya tanggal pembayaran diundur jadi tanggal 24 (jadi tanggal 25 baru kena denda. Yay! :D ).

Oke, setelah berbagai pertimbangan, akhirnya wa mutusin buat ke rumah temen wa – hari ini kita ada cucurak eASY (nama acaranya dibaca: /Chizi/ – masalah penulisannya jadi: Cheesy, cuma gara-gara maksa, wa lebih milih nyebut /Chizi/ {ah, ribet amat, ya, wa?}). Wa dianterin dari kantor Telkom ampe ke halte. Awalnya mau naik TP, tapi karena wa kurang sabar, akhirnya wa sms Sande, nanyain trayek ke rumahnya.
Katanya, sih, naek 09 ke arah Jambu, 08 ke arah Talang, terus berhenti di lampu merah, ganti 32. Abis ntu turun di Giant.

Oke, wa berhasil naek 09 ke arah Jambu, tapi dari sono wa bingung. Secara, 08 ntu ada 3. 08 biasa, 08A, and 08 biru. Karena bingung, akhirnya wa termakan hasutan tukang ojek yang berhasil nipu wa kayaknya dengan memberikan tarif 18 ribu dari Jambu ke Giant Yasmin. Wa, yang bego serta polos, and ngira kalo jaraknya masih jauh, ngambil aja tawaran itu. Apalagi setelah ngedenger kalo tukang ojek ntu udah nungguin 2 jam and ngga narik.
Yea, wa relain aja, dah.
semoga ini dianggap sebagai sebuah charity.

Nah, akhirnya wa sampe di rumah Sande, and di sono yang wa perhatiin adalah:
1. acara belom mulai (kirain wa, wa tadi telad)
2. anak kelas XII yang dateng cuma 5 orang!!!

Kenapa dengan poin 2? Sebenernya wa lagi ngejalanin masa Pra-LMT (regenerasi ekskul eASY) and /Chizi/ adalah salah satu cara mengurangi PP (Punishment Point – seri). Persyaratannya: minus 120 PP kalo yang anak kelas XII yang dateng min. 15 orang.

Begitu ngeliat jumlah yang muncul cuma 1/3-nya, wa langsung sedikit lemes. Tapi ngeliat anak-anak PM pada ngerjain sampul dengan giat, spirit wa sedikit naek juga, sih :D

Udah gitu, /Chizi/ dimulai, and kita nonton Dodgeball (awalnya boleh milih, mau game ato nonton, tapi karena yang dateng cuma 5 orang, akhirnya diputuskan nonton).
Terus kita makan. Menu /Chizi/ kali ini lengkap banget, lho. Ada snack, ada main menu, ada dessert juga :D
nikmat bener~ :D

Udah gitu, akhirnya sampailah peserta kepada klimaks /Chizi/, yaitu /Kozi/ (Singkatan maksanya adalah: Karaoke-nya eASY. Seharusnya ditulis Cozy, tapi wa lebih milih nulis demikian). Di sini, ntar nama-nama bakalan diacak, and 2 orang akan menyanyikan lagu yang diacak juga!
Kemaren wa sempet take a peek lagu-lagunya, and menurut wa, banyak banget lagu-lagu trap-nya!
Ngeri abis, dah

And parahnya, good songs come early!

Setelah menunggu [in desperation karena banyak lagu bagus yang udah terlepas], akhirnya wa kena juga. Kodenya adalah: 10044; Judulnya adalah: “Gantengnya Pacarku“.

Gila! Lagu apaan, nih?! Wa ngga pernah denger! Wa ngga tau, nih, lagu sempet tercipta! Udah gitu liriknya…… wew, horror abis, dah. Kalo mau tau kayak gimana lagunya, silahkan cari sendiri. Wa ngga mau menodai blog WP wa dengan lagu horror kayak gitu.

Ironisnya, setelah wa tersiksa secara mental, lagu berikutnya yang keluar adalah “Welcome to My Life“-nya Simple Plan!
Wew, lagu itu, kan, wa banget! Wa malah kaga dapet! ARGH!!!!!!
mojok aja, dah, wa – merenungi nasib…….

Setelah itu, akhirnya /Chizi/ selesai ketika PM pada pulang. Masih ada beberapa anak kelas XII yang tersisa, sih, tapi karena udah menjelang malem (hampir jam 6), jadinya kita pulang aja, deh. Kita cape, tapi bisa dibilang kita lumayan puas, coz akhirnya, dengan 13 anak kelas XII yang dateng, PP yang berkurang adalah 130 points! It’s more than the maximum limit, and if Cathy attend /Chizi/ till the end [apalagi kalo dia ngeliat wa kena lagu horror di atas], pasti PP yang berkurang lebih banyak lagi.
Beneran, dah, /Chizi/ sukses.

Next program? “Busy” (Buka Bareng eASY) :D