Don’t you heard
the cry of a sad song;
the symphony of screams
that ruptures the very soul
of the forest imps,
when mankind steps on their
beloved, tranquil sanctuary,
and unleashed the scorching chain
of greed and lust of wealth
that bound the mother earth
into times of sorrow?

Why?
Did the smokes from the neighboring factories
has deafened your ears?
Did the sheets of paper before your eyes
has silenced even your very conscience?
Have you decided to let sinful hands
scarred the lands, tainted the oceans,
darkened the air we breathe everyday?
Have you been lamed by the force of
this “so-called modern age”?
Can’t you even smell the blood taints
in the river flowing through our cities?

Know that every patience but God’s has its end;
so I called you to repent
before our mother nature herself avenge
her kin by every drops of your blood.

Lovely lady
comes forward with ease
hides not your charms
for yours are not of an eye
but of an ear of men
a hymn that never ends

For you might be not the fairest
nor your eyes is superior than the hawks
or your skin which is delicate next to any
you might smell like a jelly
but it’s unclear what’s inside your belly
so for once and for all, if I may ask
sing a song for the one you loved

In the times of hardship when you tried to endure the most
on the days where rain would stop and drought swarmed the lots
from the past where we belonged
for once when we held hands together
in the face of the world we never sought before
when we cried out loud and sang joyful songs
the times that I missed a lot in the present times of gold

So, please, before the days gone black
and my eyes can see nothing but the dark
please sing the song for me just once
the song that is though none to Mozart
but is beautifully unmatched in my eardrums
your song of the heart

Indira menarik nafas dalam-dalam, dan terbatuk-batuk saat asap rokok yang mengotori udara menggantikan udara bersih di dalam paru-parunya. Dia mengusap matanya yang mulai berair dan menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.

Rutinitas sangat membebaninya. Dari jam lima pagi dia sudah duduk di bangku kereta yang keras. Bangku itu akan dia duduki hingga dia sampai ke Gambir dan melanjutkan perjalanannya melintasi kota Jakarta ke sebuah perusahaan percetakan, tempat dia bekerja sebagai seorang asisten editor.

Indira kembali terbatuk-batuk saat seorang pria yang umurnya mungkin sudah setengah abad kembali menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. Kesal tapi malas untuk menegur, Indira memutuskan untuk membuka jendela dan merasakan hembusan angin sepoi pada wajahnya yang letih. Akan tetapi suasana lalu lintas Bogor yang macet sangat mengecewakannya. Alih-alih merasakan sejuknya hembusan angin, Indira malah mengernyitkan keningnya ketika asap knalpot kendaraan yang berjejalan di jalan menghambur masuk ke dalam indra penciumannya.

Indira benar-benar letih. Dia butuh ketenangan, dia butuh relaksasi, dia butuh hiburan; dan hiburan itu hanya akan didapatkannya pada akhir pekan. Tidak penting memikirkan tempat yang akan dituju nanti, pikirnya, aku akan pergi ke manapun aku suka.

Udara yang begitu panas memaksa Indira mengambil botol kecil yang hanya terisi seperempatnya. Dibukanya tutup botol itu dengan tergesa-gesa, dan ditenggaknya air yang tersisa sampai habis; akan tetapi dahaga itu tidak hilang. Indira memasukkan kembali botol kecil yang sudah kosong itu, dan berbalik menghadap jendela sembari melepas pikirannya ke langit sore.

Indira!

Sahutan itu menyentakkan Indira. Siapa yang mengenalnya di tengah kemacetan ini? Dengan sedikit kalap dia melempar pandangannya ke berbagai arah, tetapi matanya tetap tidak menangkap orang yang tadi memanggilnya. Bahkan Indira tidak mengenali suaranya.

Indira!

Lagi-lagi suara itu memanggilnya. Indira sendiri merasa sedikit takut. Dia kurang suka kejutan, karena kebanyakan kejutan berakhir naas pada dirinya. Dia masih ingat sewaktu SD tidak ada seorang pun teman sekelasnya yang masuk kelas. Setelah dia cukup panik karena guru sudah berjalan ke kelasnya, teman-temannya menghambur ke kelas sambil menyanyikan lagu “happy birthday” dipimpin oleh ketua kelasnya yang membawa sebuah kue blackforest. Kejutan yang manis, memang, kalau kejutan itu tidak berakhir dengan terlemparnya kue itu ke wajah Indira karena sang ketua kelas terpeleset.

Masih banyak kejutan yang tersimpan di dalam memori Indira yang bisa dikenangnya dan ditertawakannya, kalau saja sekarang Indira tidak merasa terancam. Dia merapatkan pegangannya pada tas gendong yang dibawanya, dan melangkah turun dari angkot yang berhenti bergerak di atas aspal panas karena kemacetan, lalu mengambil uang Rp 2.500, – dari dalam tasnya.

Tiba-tiba sebuah tangan kecoklatan yang kekar merintang entah dari mana ke arah supir angkot yang sedang menunggu. Supir itu mengambil uang yang disodorkan tangan itu, dan kembali menekan klakson.

Indira segera menatap pemilik tangna kecoklatan itu. Dia adalah seorang pria berambut pendek yang kulitnya juga sama coklatnya dengan tangannya. Wajahnya terlihat familiar di mata Indira, tetapi dia masih tidak ingat nama pria tersebut.

“Hei, Indira, masih ingat aku?” pria itu menanyakan pertanyaan mautnya.

Indira gugup, dia menelan ludah dan memaksa memorinya bekerja dua kali lebih keras untuk menemukan identitas lelaki kekar di hadapannya. Diamatinya kaos abu-abunya, celana panjang jinsnya, hingga sepatu kulitnya; berharap sebuah tulisan akan muncul dari sana untuk menunjukkan kepadanya siapa nama pria itu.

Pria itu tersenyum kecil saat Indira masih bingung mencoba mengingatnya. Dengan ramah pria itu meraih tangan Indira dan membawanya ke trotoar. Indira ikut saja, dia tidak merasakan ancaman dari genggaman tangan pria itu. Dia merasakan kehangatan yang lama telah meninggalkannya. Akan tetapi dari siapa?

Sesampainya di trotoar, pria itu menatap Indira dalam-dalam, membuat wajah Indira merona merah. Ketika Indira berpaling, pria itu angkat bicara.

“Ini aku, Bayu,” katanya dengan suaranya yang sedikit serak.

Indira langsung menatap Bayu dan memorinya dengan cepat menunjukkan berkas dengan nama Bayu Prabowo. Saat itu juga, semua kenangannya tentang berbagai kejutan yang telah dialaminya – yang kebanyakan berakhir kacau – melanda benaknya. Dia ingat. Dia ingat sekarang. Di dalam semua kejutan itu,; semua kekacauan itu, Bayu pasti selalu berdiri di depan. Pasti selalu dia yang mengacaukannya. Dia heran kenapa dia tidak teringat akan Bayu, teringat akan semua kejutan yang pernah dirancangnya.

“Sekarang kamu sudah ingat, kan?” tanya Bayu sambil tersenyum.
“Ya, aku sudah ingat,” jawab Indira mantap sambil tertawa kecil.
“Nah, kalo gitu, sekarang aku ada di sini untuk…?”
“Hmm – mungkin – kejutan?”
“Haha, kalau sudah tahu, ayo ke mobilku!” ajak Bayu sambil menunjuk mobil yang terparkir di sisi jalan di ujung barisan kendaraan yang terjebak macet.

Indira dan Bayu pun segera pergi ke mobil merah tua itu, masih bergandengan tangan.

-o-o-o-

Sepanjang perjalanan, Indira tidak membuang-buang waktu. Dia membombardir Bayu dengan pertanyaan tentang kehidupannya setelah SMA, pekerjaannya sekarang, dan banyak hal lainnya, yang hanya dijawab Bayu sekenanya, seperti, “aku kuliah di IPB…,” atau hanya dengan senyuman penuh arti. Terkadang Bayu juga tidak merespon pertanyaan-pertanyaan Indira. Akhirnya, Indira sendiri kehabisan pertanyaan dan terpaksa terdiam dan mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

Mobil Bayu meluncur santai menembus padatnya lalu lintas kota Bogor tanpa suara. Benar-benar tanpa suara. Indira sendiri heran, kenapa mobil yang lumayan besar ini sama sekali tidak bersuara. Bayu hanya menjawab kalau dia sudah mengganti mesinnya saat Indira bertanya kepadanya.

Tiba-tiba, mobil Bayu menepi di dekat pintu masuk istana Bogor, di depan gedung gereja Zebaoth. Indira menatap Bayu heran, akan tetapi Bayu hanya mengambil sebuah tas kecil dan menunjukkan sebuah kain penutup mata berwarna hitam.

“Ow, kamu tidak akan menyuruhku memakainya, kan?” tanya Indira.
“Haha, tentu saja kamu harus memakainya. Kalo ngga, di mana kejutannya?” jawab Bayu sambil terkekeh.
“Kamu serius?”
Bayu mengangguk mantap.
Indira mendesah pelan dan berkata, “baiklah, tapi jangan lama-lama, ya? Kamu tahu aku kurang suka gelap.”
“Haha, sebentar lagi gelap, koq,” timpal Bayu sambil menutup mata Indira.

Dan memang jam pada dashboard mobil Bayu sudah menunjukkan pukul 18.40 WIB.

-o-o-o-

Setelah menutup mata Indira, Bayu menjalankan mobilnya lagi ke pintu A Kebun Raya Bogor. Dia melangkah turun dan menunjukkan KTP-nya kepada kedua satpam yang sedang berjaga dan saat itu juga kedua satpam itu segera membuka pintu dan mempersilahkan Bayu masuk. Bayu tersenyum puas dan melirik ke langit sore yang mulai menggelap, sesaat sebelum dia masuk ke dalam mobil.

-o-o-o-

“Hei, sudah sampai belum?” tanya Indira yang sudah mulai panik.
“Haha, sudah, sudah. Ayo, sini kutuntun,” jawab Bayu santai.
“Hah? Masih perlu dituntun? Memangnya tempatnya sejauh apa?”
“Sudah, ayo ikut,” kata Bayu lagi sambil membuka pintu mobil dan menuntun Indira turun.

Mereka berdua berjalan seperti pasangan yang canggung. Bayu terlihat bersemangat, sedangkan Indira terlihat sedikit pucat sambil meraba-raba jalan di dalam kegelapan – yang tentunya tidak diperlukan karena Bayu menuntun setiap langkahnya. Setelah berjalan memutar dan menuruni tangga beberapa kali, akhirnya pasangan itu berhenti di bawah sebuah pohon, di dekat tunggul yang telah dimodifikasi menjadi sebuah kursi.

“Oke, duduk di sini,” kata Bayu.

Indira menurut. Bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa dia lakukan?

Dan tanpa menghitung dari satu sampai tiga, ataupun memberi aba-aba atau peringatan, Bayu membuka penutup mata Indira. Beberapa detik yang singkat terbuang untuk pembiasaan mata, dan Indira langsung terperangah melihat kejutan yang sudah dipersiapkan Bayu kali ini.

Pohon besar di hadapannya menyala kehijauan di bawah gelapnya langit malam. Cahaya temaram dari setiap lentera plastik yang tergantung di setiap cabang pohon itu seolah-olah menghisap cahaya kuning dari lampu-lampu mobil di luar kebun raya. Pohon itu seolah-olah memancarkan aura gaib yang menghipnotis semua pemandangnya. Membisukan mereka dengan cahaya hijau temaram yang selalu bergerak, membuat bayangan-bayangan setiap cabang yang saling menimpa satu sama lain, menimbulkan kesan kalau pohon itu bernafas. Pohon besar itu hidup dan bergerak dalam gerak lambat. Rerumputan di sekitarnya pun bergoyang sesuai irama tarian cahaya hijau dari pohon itu dan kolam di belakangnya memantulkan cahaya hijau yang lebih gelap dan magis seiring berjalannya malam. Jika orang ingin melihat alam Yggdrasil, mungkin mereka bisa puas setelah melihat pemandangan ini.

Indira sendiri jatuh terduduk di hadapan pohon itu. Setitik air matanya mengalir, bukan karena dia mengantuk ataupun letih, melainkan karena hati kecilnya tersentuh oleh pemandangan ini. Pemandangan yang tidak akan dilupakannya seumur hidupnya. Dia sedikit menyesal meninggalkan tasnya di mobil Bayu. Jika dia membawanya, mungkin pemandangan ini akan diabadikannya melalui kamera ponselnya.

“Ngga perlu menyesal. Sihir alam hanya bisa dirasakan melalui keajaiban waktu dan indera manusia, bukan dengan gambar statis yang hanya bisa merekamnya selama sepersekian detik. Nikmati dan lupakan semuanya,” kata Bayu pelan.

Indira menoleh untuk melihat Bayu, akan tetapi yang dia temukan hanyalah ponselnya yang sedang terhubung dengan ponsel Bayu. Bayu telah menyalakan fitur loudspeaker sehingga tadi Indira mengira dia masih ada di sana.

Indira tersenyum dan mengambil ponselnya. Dimatikannya fitur loudspeaker dan didekatkannya ponsel itu ke telinganya. Setelah membasahi tenggorokannya dengan ludah sekadarnya, Indira berkata, “Bayu, makasih banget, ya. Ini keren banget.”

“Haha, tidak apa-apa. Jangan lupa kado ulang tahunmu kuletakkan di bawah pohon itu. Masalah pohonnya, ini adalah kado dari teman-teman kita semasa SMA,” jawab Bayu yang sedang mengemudikan mobilnya keluar Kebun Raya.
“Hahaha, baiklah, akan kuambil nanti…”
“Kalau begitu, happy birthday, Indira,” potong Bayu sebelum menutup panggilan tersebut.

Indira hanya bisa tersenyum saat panggilan itu tertutup. Sekali lagi dipandangnya pohon besar itu dari ujung atas sampai ke akarnya yang kokoh, lalu ditariknya udara malam yang sejuk dan bersih ke dalam paru-parunya. Saat dia menghembuskannya, dia tahu kalau sihir ini tidak akan dilihatnya lagi, akan tetapi Bayu telah memberikannya arti dari perhentian yang sesungguhnya. Matanya mulai terasa berat dan udara dingin menusuk tulang, tetapi Indira hanya duduk dan tersenyum menatap pohon besar yang memancarkan cahaya kehijauan yang dinamis. Kejutan ulang tahun yang manis dari cinta monyetnya.

___
My First Short Story :)
Inspired from the Headline: “A Woman Died in A Weird Forest Fire in Belarus:) )

The world paused around me
as you slapped me in front of everyone
I am confused and petrified
I can’t think, I can’t breathe

I wonder why you did it
and I remember, that I’m unable to think anymore
in this time-paused world
I felt nothing but the nothingness itself

But I can remember! I can recall
those moments of hard work; of tear; of confusion;
of laugh; of party; of shame; of everything!
I can recall every single one of them
I can recall every single inch of your face
I can recall how loud we shouted together
I can recall them all
I can… through an unknown mechanism within

And those moments taught me many things
and I know that one day, there will be time
when we clash; fighting for the highest throne

Don’t you know, just thinking it aches my heart?
Don’t you know, I am ready to oblige under your wings?
My hands are ready to sweat for you
My blade is ready to bathe in blood for you
Every single joints in me are ready to move when you say a word
Every single voice ever spoken are ready to shout when you give a sign
I am ready to be your ninja
to be the dark assailant, something none would like to be

And for all of that, you slapped me?
We were born under the same knighthood!
We’re all fit to be the successors!

spoken words are true, indeed
can’t rebut it, yet wouldn’t take it
but now, I take it
I take it now, as the world moves on

Let us fight among the bests of the bests!
Let us claim our throne!
I’ve taken it now,
what about you?

Oke, pasti semuanya pernah denger kalo 30% dari personality manusia berasal dari orang tua, sedangkan 70% sisanya dari lingkungan.

Nah, pernah, ngga, mikir 30% ntu apa aja? Mungkin yang keliatan jelas (Fenotip) bisa dilihat dari fisik. Ada yang fisiknya frail gara-gara bokap jarang olahraga, ada yang wajahnya ganteng gara-gara nyokab sering operasi plastik (hubungannya?), etc; Tapi sebenernya 30% ntu ngga cuma yang keliatan di luar aja, kan?

Oleh karena itulah wa nge-post kali ini :) untuk membuktikan kalo bagaimanapun juga, manusia ngga akan lepas dari kata “Genetik.”

Oke, jadi gini aja, biar gampang, wa akan memberikan diri wa sendiri sebagai contoh (bukannya pengen narsis, ya). Jadi, setelah mengamati tingkah laku orang tua wa selama beberapa saat (wa lupa berapa lama), wa bisa menyimpulkan bahwa:

Sifat/Pembawa
Fondness to Death/Both
Fondness to Number 13/Both
Cacat Mata/Both
Plainness/Pa
Fondness to Literature/Pa
Recklessness/Pa
Tendency to Act Like a Loner/Pa
Fondness to Philosophies/Pa
Tendency to Act Radical/Pa
Intense Love to God/Ma
Stubbornness/Ma
Tendency to Think Critically/Ma
Will to Fight over Injustice/Ma
Strength to Carry On/Ma
Fondness to Genetics/Ma :D

Nah, dengan begini bisa dilihat, kan, kalo ternyata 30% ntu ngga cuma sebatas yang di luar, tapi juga tembus ampe ke dalem :D

Bahkan dengan lebih mengenal sifat yang diturunkan oleh orang tua kita, kita juga akan lebih sayang ama mereka, karena kita merasa dekat; merasa mirip; merasa tidak sendiri :)

____
wew, gaje abis, dah, wa =))

Oke, langsung aja wa mulai.

Hari ini wa cabut ke skul buat kumpul bentar, terus wa ke kantor Telkom di Pajajaran (ato apalah, nama tempatnya :P ) buat bayar Speedy.

Di sono, wa dapet urutan nomer (masih wa simpen ampe sekarang) and dapet nomer “670“. Wow, hari ini emang hari terakhir bayar Speedy, jadi wajar kalo misalnya banyak banget yang dateng. Tapi wa sama sekali ngga nyangka kalo misalnya yang dateng ntu ampe 669 orang lebih.
Oke, wa bisa sabar. Wa pergi ke ruang pembayaran, and di sono wa ngeliat tulisan merah berpendar yang menunjukkan kalo nomer yang terdiri dari angka 6, 7, dan 0. Wa senyum-senyum sendiri, soalnya nomer yang tertera di sono adalah 067.

Udah gitu server Speedy pake acara error segala, lagi. Akhirnya tanggal pembayaran diundur jadi tanggal 24 (jadi tanggal 25 baru kena denda. Yay! :D ).

Oke, setelah berbagai pertimbangan, akhirnya wa mutusin buat ke rumah temen wa – hari ini kita ada cucurak eASY (nama acaranya dibaca: /Chizi/ – masalah penulisannya jadi: Cheesy, cuma gara-gara maksa, wa lebih milih nyebut /Chizi/ {ah, ribet amat, ya, wa?}). Wa dianterin dari kantor Telkom ampe ke halte. Awalnya mau naik TP, tapi karena wa kurang sabar, akhirnya wa sms Sande, nanyain trayek ke rumahnya.
Katanya, sih, naek 09 ke arah Jambu, 08 ke arah Talang, terus berhenti di lampu merah, ganti 32. Abis ntu turun di Giant.

Oke, wa berhasil naek 09 ke arah Jambu, tapi dari sono wa bingung. Secara, 08 ntu ada 3. 08 biasa, 08A, and 08 biru. Karena bingung, akhirnya wa termakan hasutan tukang ojek yang berhasil nipu wa kayaknya dengan memberikan tarif 18 ribu dari Jambu ke Giant Yasmin. Wa, yang bego serta polos, and ngira kalo jaraknya masih jauh, ngambil aja tawaran itu. Apalagi setelah ngedenger kalo tukang ojek ntu udah nungguin 2 jam and ngga narik.
Yea, wa relain aja, dah.
semoga ini dianggap sebagai sebuah charity.

Nah, akhirnya wa sampe di rumah Sande, and di sono yang wa perhatiin adalah:
1. acara belom mulai (kirain wa, wa tadi telad)
2. anak kelas XII yang dateng cuma 5 orang!!!

Kenapa dengan poin 2? Sebenernya wa lagi ngejalanin masa Pra-LMT (regenerasi ekskul eASY) and /Chizi/ adalah salah satu cara mengurangi PP (Punishment Point – seri). Persyaratannya: minus 120 PP kalo yang anak kelas XII yang dateng min. 15 orang.

Begitu ngeliat jumlah yang muncul cuma 1/3-nya, wa langsung sedikit lemes. Tapi ngeliat anak-anak PM pada ngerjain sampul dengan giat, spirit wa sedikit naek juga, sih :D

Udah gitu, /Chizi/ dimulai, and kita nonton Dodgeball (awalnya boleh milih, mau game ato nonton, tapi karena yang dateng cuma 5 orang, akhirnya diputuskan nonton).
Terus kita makan. Menu /Chizi/ kali ini lengkap banget, lho. Ada snack, ada main menu, ada dessert juga :D
nikmat bener~ :D

Udah gitu, akhirnya sampailah peserta kepada klimaks /Chizi/, yaitu /Kozi/ (Singkatan maksanya adalah: Karaoke-nya eASY. Seharusnya ditulis Cozy, tapi wa lebih milih nulis demikian). Di sini, ntar nama-nama bakalan diacak, and 2 orang akan menyanyikan lagu yang diacak juga!
Kemaren wa sempet take a peek lagu-lagunya, and menurut wa, banyak banget lagu-lagu trap-nya!
Ngeri abis, dah

And parahnya, good songs come early!

Setelah menunggu [in desperation karena banyak lagu bagus yang udah terlepas], akhirnya wa kena juga. Kodenya adalah: 10044; Judulnya adalah: “Gantengnya Pacarku“.

Gila! Lagu apaan, nih?! Wa ngga pernah denger! Wa ngga tau, nih, lagu sempet tercipta! Udah gitu liriknya…… wew, horror abis, dah. Kalo mau tau kayak gimana lagunya, silahkan cari sendiri. Wa ngga mau menodai blog WP wa dengan lagu horror kayak gitu.

Ironisnya, setelah wa tersiksa secara mental, lagu berikutnya yang keluar adalah “Welcome to My Life“-nya Simple Plan!
Wew, lagu itu, kan, wa banget! Wa malah kaga dapet! ARGH!!!!!!
mojok aja, dah, wa – merenungi nasib…….

Setelah itu, akhirnya /Chizi/ selesai ketika PM pada pulang. Masih ada beberapa anak kelas XII yang tersisa, sih, tapi karena udah menjelang malem (hampir jam 6), jadinya kita pulang aja, deh. Kita cape, tapi bisa dibilang kita lumayan puas, coz akhirnya, dengan 13 anak kelas XII yang dateng, PP yang berkurang adalah 130 points! It’s more than the maximum limit, and if Cathy attend /Chizi/ till the end [apalagi kalo dia ngeliat wa kena lagu horror di atas], pasti PP yang berkurang lebih banyak lagi.
Beneran, dah, /Chizi/ sukses.

Next program? “Busy” (Buka Bareng eASY) :D

wew, ntu judul apaan?
ntu adalah judul post wa kali ini, yaitu: “Slave of Self

Tanpa banyak cincong, langsung aja wa terangin.

Slave of Self adalah sebuah sebutan/julukan/nama yang dimaksudkan kepada orang-orang yang sering memaksakan diri.
Memaksakan diri dalam hal apa? Dalam banyak hal. Mulai dari pekerjaan, kegiatan fisik, kondisi fisik, mental, sampai pilihan. Wew, hal-hal yang terakhir-terakhir mungkin udah masuk metafisika (di luar alam fisik), neh. Oleh karena itu, wa bahas di sini :D

Sebelum itu, perlu dicatat bahwa memaksakan diri di sini tentunya bukan dipaksa oleh orang lain, tetapi memforsir diri sendiri atas tujuan sendiri, bukan oleh kehendak orang lain, apalagi tujuan orang lain. Iming-iming boleh ada, tapi di sini wa lebih menujukan tanpa iming-iming – meskipun begitu, pemaksaan diri untuk mendapat iming-iming tetap bisa tergolong ke dalam Slave of Self.

Nah, setelah jelas maksudnya memaksakan diri di sini, tuh, memaksakan diri yang kayak gimana, kita lanjut ke dunia metafisis.
kekekekekekekekeke

Jadi, salah satu penyebab orang menjadi Slave of Self bisa dibilang karena dia adalah orang yang pintar, sangat pintar – mungkin. Nah, orang-orang intelek ini tentu saja dalam menghadapi masalah lebih berpikir menggunakan otak, bukan hati. Mereka bukan mengabaikan faktor hati; mereka masih mempertimbangkan faktor hati, tapi mereka tetap lebih mengedepankan logika dan iman (kalo mereka beriman) dalam menghadapi masalah, karena mereka tahu bahwa itulah jalan terbaik, dan mungkin teraman.

Akan tetapi, terkadang sekalipun kita sudah mengetahui jalan mana yang paling baik dan aman, kita tetap terdiam dan abstain. Kenapa? Tentunya karena faktor hati yang terus meronta. Ingat, manusia terus menggunakan hati untuk berinteraksi, dan oleh sebab itulah, hati bisa berkembang menjadi momok yang cukup membingungkan dan berpengaruh dalam penyelesaian masalah.
Nah, untuk mengatasi hati yang meronta-ronta, terkadang seorang intelek (ataupun seorang biasa) “membunuh” perasaan hati dengan menggunakan otak. Dia paksakan pilihan dan kehendak yang telah dia pilih, sehingga hati lama-lama mulai letih dan akhirnya terdiam, menangis di sudut kamar.

Saat orang memaksakan kehendaknya ke dalam dirinya sendiri, saat itulah dia menjadi Slave of Self.

Menyedihkan, kah, kondisi seperti ini? Mungkin, bagi beberapa orang, tapi ada juga orang yang menganggap ini sebagai sebuah cara dalam menyelesaikan masalah. Bagi beberapa orang, ini adalah pembunuhan karakter, bagi golongan lain, ini adalah karakternya. Semuanya tergantung dari cara kita masing-masing memandang dan menilainya. Jangan langsung menghakimi atau memandang tinggi julukan ini, semuanya punya konsekuensinya.

Saya sendiri adalah Slave of Self, sampai sekarang.

haha, judul post yang lumayan kontroversial, bukan?
kekekekekekeke

tapi sabar, ada penjelasannya (buat orang yang pinter, ntar mereka udah ngeliat kalo ini masuk category “Dry Jokes”)

jadi gini, wa baru-baru ini sakit keras semacam demam+batuk [yang bisa bikin perut kaku and pengen muntah-muntah] dengan gejala-gejala peralihan dari homotherm (darah panas), ke poikilotherm (darah dingin – kalo Latinnya salah, kasih tau wa, oke? materi SMP, neh :P [masalah ini akan wa bahas di bawah - jadi yang ngga sabar bisa langsung scroll down :P ]). akhirnya, kemaren, wa udah mendingan (sekalipun masih belom sembuh total).
nah, kemaren malem, nyokab wa ngecek apakah demam wa udah reda ato ngga dengan cara tradisional, yaitu dengan merasakan dengan media kulit (naro tangan di dahi)
sesudah melakukan check up super singkat ntu, nyokab wa comes into a conclusion, and ngomong, “oh, jadi masih sumer, ya?”

nah, kata apaan, tuh, sumer?
usut punya usus usut, ternyata sumer berasal dari bahasa Jawa yang artinya “panas, demam, meriang, etc.”

saat itu, wa langsung membandingkan dengan kata “summer”, yang dalam bahasa Inggris berarti “musim panas.”

apakah ini kebetulan? kita tidak pernah tahu. yang pasti wa menganut aliran “There is No Coincidence.

kekekekekekekeke

___

oke, SISIPAN TIME! (sisipan, koq, ditaro di akhir?)
yang wa maksud peralihan dari darah panas ke darah dingin adalah:
begini, di pagi hari yang pasti pada tahu dinginnya kayak gimana (apalagi buat wa yang hampir tiap beberapa menit sekali ke kamar mandi buat buang air kecil – maklum, frekuensi minum wa ditingkatkan selama masa penyembuhan :D ), suhu tubuh wa jadi dingin banget.
and wa inget banget, dulu, pas wa masih SMP, wa pernah dingin banget kayak gini, and pas wa cek di termometer, air raksanya turun ampe ke angka 28 derajat Celcius.

Karena wa dingin banget, alhasil wa tidur dengan mengenakan sweater+selimut di sekujur tubuh.
beberapa jam kemudian, suhu wa naek ampe sekitar 38-39 derajat Celcius.

mistis, ngga juga, tapi bisa dibilang gitu juga, sih
kekekekekekekekekeke

laptop gue dibawa ama kakak wa ke Bandung!
anying! sial!
dasar tidak berperikemanusiaan!

kalo gini wa langsung ngga bisa ngenet, ngga bisa dengerin mp3, tidak!!!!!!!!!
anying, dasar kakak egois! (eh, wa juga egois, ya? kekekekeke)
pokoknya sial banget, dah

Japanese Romaji

EASY na riyuu issai yurusu jyakuhai
RESCUE tai mo yondeoita
dakara PLEASE KISS ME PLEASE KISS ME ALL NIGHT

ALL NIGHT
ALL NIGHT

migimefuta no kizu ga itainda
aitsu oboeteru
sente hisshou are irai
tansaibou na omae wa nanra kawacchainaindana
datenshi no mahou ka koakuma no chachina itazura
tsumannakunacchau mae ni

soore de houre BOWLING BALL
kibutsuhasonzai nado shouchi
soredemo koware sou de kowasenai
nanka motodouri

saishuu teki ni subete wa arifureteiku
sensei anta uragirimonda
ima sugu PLEASE KISS ME PLEASE KISS ME ALL NIGHT

karappona risou mo magaimono na ai mo iiya
subete ga bakabakashiitte warerya

shounen no mukou e mogaite mo
ibutsuna sonzai daro shouchi
douse yaburesoude yabukenai
bokura no STORY

sonna no shouchi

datenshi no mahou ka koakuma no chachina itazura
shikakero ima sugu ni
karappona risou mo magaimono na ai mo iiya
subete wa bakabakashii SCENE da

soore de houre BOWLING BALL
kibutsuhasonzai nado shouchi no suke
kowaresou de
sonna chikaramakese no PRIDE mo amai hibi no daishou mo
koeteikesou de
tocchirakatta kanjou de kirihirake yo
kowaresou de
kowasenai bokura no shouri

English Translation

It’s so very easy
for youth to forgive everything
I called in the rescue squad
So please kiss me, please kiss me
All night…
All night…
All night…

The scar on your right eye is painful,
when you’re trying to remember.
Since then you’ve searched for victory
You aren’t alone or weak, you are better, a moaned to me

Is it a fallen angel’s magic, or a mischievous monster’s prank?
Before we get bored
Let’s let go of that
bowling ball.
We lead such strange lives.
Accept it, but yet..
We want to smash it, but we can’t, it wont happen like before

Everything is finally just the way it should be
Your betrayal, Teacher left a problem
Now immediately
please kiss me
please kiss me
ALL NIGHT

Empty, Ideal, Mistaken, so much love is called
Everything we do is stupid, let them laugh

Struggling to the other side, to find that one
The foreign material exists
I agree that there is a tear, but
I wont let that alter my story

Such consent

Is it a fallen angel’s magic, or a mischievous monster’s prank?
Set up now directly
Empty, Ideal, Mistaken, so much love is called
Everything we do is stupid, let them laugh

Let’s let go of that
bowling ball.
We lead such strange lives
I Agree, yeah?
We’re gonna break…
All the suffering you’ve brought to me, to leave behind is all so sweet
Keep exceeding it
Cut through the inner turmoil, with the one feeling
I’ve Broken it
My victories which you cannot break

___
entah kenapa sejak ngeliat video-nya sebagai Ending ke-6 Naruto Shippuuden, wa langsung suka ama lagu ini
enak melodinya, liriknya juga enak. bukan puisi cengeng, tapi realistis.
sekalipun akhirnya kurang wa ngerti, tapi entah kenapa wa ngerasa lagu ini fit ama wa for the time being
kekekekeke