wew, ntu judul apaan?
ntu adalah judul post wa kali ini, yaitu: “Slave of Self

Tanpa banyak cincong, langsung aja wa terangin.

Slave of Self adalah sebuah sebutan/julukan/nama yang dimaksudkan kepada orang-orang yang sering memaksakan diri.
Memaksakan diri dalam hal apa? Dalam banyak hal. Mulai dari pekerjaan, kegiatan fisik, kondisi fisik, mental, sampai pilihan. Wew, hal-hal yang terakhir-terakhir mungkin udah masuk metafisika (di luar alam fisik), neh. Oleh karena itu, wa bahas di sini :D

Sebelum itu, perlu dicatat bahwa memaksakan diri di sini tentunya bukan dipaksa oleh orang lain, tetapi memforsir diri sendiri atas tujuan sendiri, bukan oleh kehendak orang lain, apalagi tujuan orang lain. Iming-iming boleh ada, tapi di sini wa lebih menujukan tanpa iming-iming – meskipun begitu, pemaksaan diri untuk mendapat iming-iming tetap bisa tergolong ke dalam Slave of Self.

Nah, setelah jelas maksudnya memaksakan diri di sini, tuh, memaksakan diri yang kayak gimana, kita lanjut ke dunia metafisis.
kekekekekekekekeke

Jadi, salah satu penyebab orang menjadi Slave of Self bisa dibilang karena dia adalah orang yang pintar, sangat pintar – mungkin. Nah, orang-orang intelek ini tentu saja dalam menghadapi masalah lebih berpikir menggunakan otak, bukan hati. Mereka bukan mengabaikan faktor hati; mereka masih mempertimbangkan faktor hati, tapi mereka tetap lebih mengedepankan logika dan iman (kalo mereka beriman) dalam menghadapi masalah, karena mereka tahu bahwa itulah jalan terbaik, dan mungkin teraman.

Akan tetapi, terkadang sekalipun kita sudah mengetahui jalan mana yang paling baik dan aman, kita tetap terdiam dan abstain. Kenapa? Tentunya karena faktor hati yang terus meronta. Ingat, manusia terus menggunakan hati untuk berinteraksi, dan oleh sebab itulah, hati bisa berkembang menjadi momok yang cukup membingungkan dan berpengaruh dalam penyelesaian masalah.
Nah, untuk mengatasi hati yang meronta-ronta, terkadang seorang intelek (ataupun seorang biasa) “membunuh” perasaan hati dengan menggunakan otak. Dia paksakan pilihan dan kehendak yang telah dia pilih, sehingga hati lama-lama mulai letih dan akhirnya terdiam, menangis di sudut kamar.

Saat orang memaksakan kehendaknya ke dalam dirinya sendiri, saat itulah dia menjadi Slave of Self.

Menyedihkan, kah, kondisi seperti ini? Mungkin, bagi beberapa orang, tapi ada juga orang yang menganggap ini sebagai sebuah cara dalam menyelesaikan masalah. Bagi beberapa orang, ini adalah pembunuhan karakter, bagi golongan lain, ini adalah karakternya. Semuanya tergantung dari cara kita masing-masing memandang dan menilainya. Jangan langsung menghakimi atau memandang tinggi julukan ini, semuanya punya konsekuensinya.

Saya sendiri adalah Slave of Self, sampai sekarang.

Tulis sebuah Komentar

*
*