Arsip Bulanan: Desember 2010
Bid Me [Farewell and] Resolution
Hei-how~, gimana kabarnya semua? Seperti tahun lalu, hari ini pun wa akan mengepost mengenai resolusi tahun ini, yakni tahun 2010. Gimana, sih, tahun ini berjalan? Ada apa aja yang bener-bener wa inget ampe sekarang? Oke, langsung aja kita baca di bawah.
#Twitter
Nah, kayaknya, sih, tahun ini wa baru bener-bener addicted to Twitter. Tahu, kan, situs miniblog ini? Bahkan wa masih menggunakan sistem di twitter pas online di Facebook (terutama lambang pagar [#] sebagai penanda emot yang lagi dipake)
Nothing new, but if you wanna contact me fast, you better use Twitter. If I don’t respond to your tweet, then it mostly possibly means that I’m just too occupied with my current activity.
Galau
Haha, kayaknya remaja-remaja se-Indonesia pada tahu, ya, arti kata di atas? #fufu Yup, galau tidak dapat dilepaskan dari diri wa akhir-akhir ini. Sedikit recap, meskipun tahun lalu rasanya wa udah bisa ngeliat masa depan wa dengan seseorang, tapi tahun ini ada beberapa distractions, sebutlah S-1 dan S-2 (silakan, @akatsukifrost, kalo masih inget #fufu #plak) juga S-3 meskipun cuma thoughts.
Ironisnya, they all followed almost the same pattern. It #somehow got worse and, yeah, pretty much a failure, much to unknown causes (really, no exagerration[sp?] here), meskipun badan wa sekarang jadi anget kalo inget akan 3 orang itu. Well, wa harap hubungan wa bisa membaik, terutama untuk yang S-2 dan yang S-3. Untuk S-2, wa selalu inget ama tweet u, dan emang bener, wa nggak isa untuk u, tapi rasanya nggak enak aja karena kayaknya setiap kali wa ngeliat u, u selalu preoccupied with something. Guess I just miss your cheerful smile and self. I’m sorry if I ever neglect you or do anything bad. I know that I’m not really sensitive, so please tell me so I can make amends.
Untuk S-3, wa tau masalahnya ada di wa. I’ve left you and… yea, you know the story; I’ve told you, rite? So, let’s just let everyone knows everyone’s well-being when things happen. I know it’s gonna be awkward at first, but I’m positive that we can figure this out together (because we always were, right? Just look at our debate roster
). If it turns out that it’s already beyond repair, then I’m willing to take the blame.
Tapi in the end, wa sekarang makin berserah mengenai hal ini (terutama untuk yang beneran, bukan yang S), dan wa sekarang semakin manteb untuk bersikap suportif terhadap pasangan ini. So, for both of you, all God’s bests for your future!
As for me, I believe in God’s plan. Some of you may think that I’m pathetic, but, yeah, I have no excuses. In the past I’ve used too many excuses and complained a lot, but no longer. I won’t even play as the victim, because only desperate cowards do. I know I’m not that strong, either, so, if you have any help, I’ll be open. Just ring a bell, ok?
Sneak Peek to United Nations
Ok, this one is definitely interesting. Jadi ada jenis lomba baru yang agaknya [telat wa sadari] baru merambah lingkup SMA, yaitu Model United Nations, yang wa ikuti di ALSA UI Local Chapter.
MUN bener-bener captivate my heart. At first it may looked boring and time-consuming (I mean, because I was a debater, sessions won’t last for hours or days!), but look at us now! It’s fun and serious and… well, so much fun #sakali because it’s stated that “time flies when you’re having fun“. It also finally got me an ALSA trophy (definitely my most favorite trophy of other trophies, I’ve got - too bad I didn’t get the “oscar” ), perhaps because I’m a little more prepared (because my preparation really costs me in many things with pride included
).
So, believe me, you better sign up for 2011′s MUN!
And I will really go again if God permits me and He sets the situation right (it doesn’t cross universities’ test or final exam dates, i don’t have problem with school, etc.).
Senior Year is… [Almost] Beyond Words!
Yea, kelas XII itu bener-bener, deh, nggak nahan
dan wa bener-bener caught up sama the whole thing. Semuanya jadi sibuk, ada konflik ini-itu, kelas di-shuffle, relationships change, well, bener-bener [almost] beyond words. Wa tau wa telat “mempersiapkan” semuanya, tetapi mari kita lihat bagaimana wa mengakhiri tahun ketiga wa di SMANSA. Hopefully everyone sees bright future images from the foundation we set in… a couple of months, I think?
A Whole New World Batch!
Ok, pergantian tahun ajaran berarti pergantian pengurus ekskul, dan wa menjadi ketua regen eASY. Lumayan, sih, wa bisa mencoba mematahkan rantai yang tidak ada habisnya ini, dan meskipun wa tau wa punya banyak masalah dan kekurangan, wa percaya angkatan di bawah wa, angkatan pengganti wa, bisa membuat cara yang lebih baik. Kalo ternyata kalian memang harus melakukannya dengan cara konvensional, at least kalian tahu bahwa ini bukan untuk bales dendam atau apapun, tetapi bahwa ini dilakukan untuk kebaikan kalian; at least sekarang kalian nggak bisa ngomong sendiri bahwa semua kata-kata “kita gini ada maksudnya, Dek!” or anything similar sudah dibuktikan, terutama untuk anak eASY, ya~
Untuk anak KIR yang pengen tahu rasanya regen nonkonvensional yang [kelihatannya] lebih kondusif, silakan tanya ke anak eASY. Anak Sketsa yang mau mengaplikasikan regen tahun depan tapi mau nggak dianggep sama dengan regen-regen lainnya, [kalo mau boleh] hubungi wa (karena wa sebenernya punya beberapa ide, sih).
Sayangnya, itu kembali mengingatkan wa ama kehidupan per-ekskul-an wa yang… sangat memihak ke 1 ekskul (sebut saja, eASY #plak) dan gabut di ekskul-ekskul lain. Tapi waktu sudah berlalu dan wa tau kalo memang lebih baik wa [yang masih terlalu revolusioner dan idealis] nggak jadi aktif di ekskul-ekskul lain. Pokoknya, all the bests juga buat angkatan-angkatan baru! Wa percaya kalian bisa lebih baik! Kalo kalian masih mau ngobrol, silakan aja, sih, wa open, dan sudah lebih dapat menerima bahwa angkatan wa – seburuk-buruknya dan sebaik-baiknya – sudah selesai. Memang belum puas karena goals angkatan wa terlalu tinggi, tetapi wa percaya seenggaknya angkatan wa dapat dikatakan udah cukup untuk menjadi batu loncatan kalian untuk menggapai those higher goals, terutama karena wa udah ngeliat bahwa kalian juga punya XQS angkatan kalian (hopefully, it won’t only be Cheryl, Aqila, Daffa, Pepe, Salsa, and Retha, but will grow bigger and closer – yea, if you wanna be like the previous XQS, you gotta be closer, dudes
) – salah satu hal yang bener-bener kalian lack.
Law No. 3 year 2010 regarding Play-by-post Role-playing Games
Harus wa akui, wa sangat terjerumus dalam Role-play (RP). Memang ada momen di mana wa bener-bener nggak RP lagi sama sekali, tetapi akhirnya wa RP juga pada akhir tahun ini #plak Tetapi wa sekarang tau bahwa wa ini manusia terbatas, dan efektif mulai 1 Januari 2011, maka wa akan mengaplikasikan aturan baru mengenai aktivitas RP wa, yakni:
There shall be only one character in one play-by-post role-playing game site.
Cukup jelas, kan? Mungkin akan ada pengecualian buat BOHQ, ya, karena wa adalah staf dan sehebat-hebatnya wa mau menghabisi OC wa di sono, minimal wa harus menjangkau semua cabang, so, mungkin OC yang bener-bener akan bertahan [setelah purge yang sebentar lagi datang] adalah: Lupus Corwin dan Nellie Barker (MCAUS), Mine Kaya Berrin (MCATT), juga Silverius Girlani (MCA) (Markas Pusat nggak karena sudah banyak banget anggotanya dan udah banyak karakter baik buatan staf maupun nonstaf lainnya yang pasti bakalan oke #plak). Sementara itu, Gary Stewart, Abel Baptiste, dan Benjamin Baptiste, akan kena purge, sedangkan Pyotr Velikiy rencananya akan dijadikan seorang purnawirawan di HoF (yea, Chief, inilah proposal Jenderal HoF saya. Oke, kan?
#plak) dan Frederick Ulrich bisa bertahan di board pendaftaran mengingat saya masih sayang banget untuk melepaskan dia mengingat riset luar biasa yang harus saya lakukan untuk membuat dia (lihat saja Riwayat pra-BO-nya yang memakan beberapa halaman A4! #pamer #plak).
Yup, selain BOHQ, saya akan menerapkan hal ini, kecuali kalau saya cukup beruntung untuk menjadi staf RP di forum lain dan merasa perlu membuat lebih dari satu OC.
Talk Think Less, Do Feel More
Wa nggak tau, tapi ada momen di mana wa menyadari bahwa wa mulai lebih mengandalkan hati ketimbang pikiran; perasaan daripada akal sehat. Memang wa masih mikir dalam melakukan sesuatu, tapi suatu malem, wa disadarkan aja kalo ternyata wa makin lama makin sensitif terhadap perilaku orang ke wa. Well, wa nggak tau ini hal baik ato nggak (lebih condong ke baik, sih), dan wa tau bahwa mungkin temen-temen wa yang sekarang lebih mementingkan akal sehat untuk mempersiapkan masa depan akan mikir wa bego dan telat banget, tapi, wa percaya semuanya ada di dalam pengaturan-Nya dan wa cukup berserah aja sama Dia karena Dia sudah atur segala sesuatunya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia, yaitu bagi kita yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya.
Kudus Dua
Yak, wa emang nggak keliling Jawa tahun ini, tapi wa ikutan Konferensi Perbauran Remaja di Bandung tanggal 22-27 Desember 2010 dan berbaur dengan banyak orang dari Jakarta, Bogor, Bandung, dan Singapura dalam sebuah kelompok yang bernama “Kudus Dua”! Kelompok ini terdiri dari Miguel, Santo Christianto, Dadang, Gery Natawijaya, Belly Yan Putra, Bagus Setiawan, Vidi Suryawijaya, Franky Sutanto, wa, Devin Oktavianus Warman, dan Alfian Wiranata.
Dari kelompok ini, wa bener-bener mendapatkan bantuan dan esensi dari sidang perbauran kali ini. Kelompok ini juga bener-bener beda dari kelompok-kelompok dalam sidang-sidang sebelumnya, di mana kita bener-bener keep in touch dan tetep saling membangun di dalam Tuhan bahkan setelah sidangnya selesai. Pokoknya, wa harap tahun depan, ketika ada sidang perbauran lagi, kelompok Kudus 2 bisa reunite ato seenggaknya ketemuan lagi. Saat itu, wa yakin kita semua sudah bertumbuh dalam Tuhan. Tuhan memberkati! ![]()
___
Demikianlah resolusi tahun 2010 wa. Kalo dilihat-lihat memang lebih bland ato kurang gereget dibandingkan dengan resolusi tahun 2009 wa, dan jujur aja, wa aja nggak tau wa harus memberi judul apa sampai saat wa ngetik kata ini karena wa bener-bener udah ngeliat ke tahun 2011, sih.
Karena itulah judulnya jadi begini, karena wa merasa resolusi ini lebih terlihat seperti pengantar menuju tahun 2011. Wa percaya tahun 2011 akan menjadi tahun yang oke dan bener-bener seru, karena sebenernya tahun 2010 ini rasanya habis dalam pikiran wa yang bener-bener ribet dan pada akhir tahun 2010 ini, wa rasanya bener-bener siap untuk pergi!
God blesses you all, brothers and sisters!
Mei 1998: Tiba-tiba Gelap Mata?
8 hari sebelum Orde Baru berakhir, terjadi sebuah kerusuhan besar di Jakarta. Kerusuhan ini terjadi selama 2 hari, tercatat tanggal 13-14 Mei 1998, dan hebatnya, memakan korban jiwa sekitar 5.000 orang. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu? Mengapa begitu banyak orang terenggut nyawanya? Siapakah dalang kerusuhan mengerikan ini? Juga apakah kerusuhan ini sebenarnya diperlukan untuk menghancurkan rezim Orde Baru? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dalam studi kasus kali ini.
Sebagai latar belakang, pertama-tama, perlu diketahui bahwa Mei 1998 adalah momen yang sangat penting bagi orang Indonesia dan demokrasi secara umum karena pada tanggal 21 Mei, Soeharto, almarhum mantan Presiden Republik Indonesia (RI), mengundurkan diri karena tuntutan rakyat dari jabatannya meskipun telah memenangkan Pemilu 1998. Pengunduran diri Soeharto juga tidak lepas dari konflik di dalam pemerintahan, di mana tokoh-tokoh masyarakat dan anggota kabinetnya sendiri menentangnya kembali menjabat sebagai Presiden RI, baik secara lisan maupun tulisan; Selain itu, dari luar pemerintahan, hal ini juga disebabkan oleh “Invasi Senayan”, sebuah revolusi yang digerakkan oleh para mahasiswa yang menduduki gedung pemerintahan di Senayan, Jakarta, yang dengan efektif mengganggu kinerja MPR dan DPR yang berlokasi di tempat itu.
Kejadian ini dapat dikatakan tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga meskipun sekilas Soeharto memiliki kekuasaan besar semasa Orde Baru, sebenarnya saat itu, dapat dikatakan Soeharto cukup sendirian, karena bahkan ketua MPR dan ketua Golongan Karya (Golkar) saat itu juga menentang Soeharto menjadi Presiden RI. Soeharto sendiri dapat melihat bahwa saat itu keadaan Indonesia semakin kacau di bawah kepemimpinannya dan usulan Reformasi 2003 yang dicetuskannya jelas-jelas ditolak rakyat.
Melihat semuanya ini, kelihatannya semua yang terjadi sudah cukup untuk membuat Soeharto turun dari kursi kepresidenan dengan baik-baik (apalagi apabila melihat ke depan ke akhir masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, di mana hanya diperlukan keputusan tegas kabinet dan militer untuk memberhentikan masa jabatannya secara tidak hormat), dan dilaporkan bahwa Soeharto juga semakin sering menimbang keputusan untuk tetap melanjutkan masa pemerintahannya atau mengundurkan diri sesuai tuntutan rakyat setelah meskipun saat itu dia harus mempersiapkan diri untuk menghadiri KTT G-15 di Mesir.
Akan tetapi setelah semua itu, mengapa masih terjadi kerusuhan besar yang menjadi kasus dalam esai ini padahal gelombang pertama Invasi Senayan sudah dimulai sejak bulan Maret? Apalagi kerusuhan ini bukan seperti kerusuhan lainnya yang biasanya memakan korban di pihak mahasiswa/demonstran bukan rakyat secara umum, apalagi para pelaku ekonomi. Kejadian luar biasa ini jelas tidak muncul begitu saja dan banyak orang percaya bahwa ada tangan-tangan tidak terlihat yang menggerakkan rakyat RI untuk melakukan pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penjarahan pengrusakan, penghancuran, dan berbagai kejahatan kemanusiaan dan ekonomi lainnya, yang sebenarnya juga mendapatkan perhatian para sejarawan dunia yang menilai bahwa rakyat Indonesia saat itu sedang benar-benar gelap mata.
Salah satunya adalah Sandyawan Sumardi, seorang pendeta dan anak kepala polisi saat itu, yang sempat mengadakan investigasi independen mengenai masalah ini dan mewawancarai saksi-saksi langsung kerusuhan ini. Hasilnya cukup mengejutkan, karena banyak saksi yang mengatakan bahwa mereka melihat perwira Kopassus memerintahkan massa membakar sebuah bank; saksi-saksi yang berlatar belakang pemilik toko pun mengaku bahwa beberapa hari sebelum kerusuhan terjadi, beberapa perwira militer mendatangi toko-toko mereka dan meminta uang keamanan; saksi-saksi lain yang lebih muda mengaku bahwa seorang perwira Kopassus memerintahkan mereka untuk ikut dalam kerusuhan; saksi-saksi lainnya menyatakan bahwa perwira-perwira militer datang dengan truk militer dan mengajak mereka ikut dalam kerusuhan serta mengarahkan mereka untuk menyerang rumah-rumah dan toko-toko, terutama milik etnis Cina. Beberapa saksi juga menduga bahwa Jenderal Prabowo lah yang mengatur pergerakan perwira-perwira militer itu, akan tetapi ini baru dugaan semata.
Fakta yang mengejutkan itu juga didukung oleh sifat pasif fraksi militer di pemerintahan pada masa itu dan oleh sikap ambisius Jenderal Prabowo yang menginginkan jabatan Kepala Perwira Angkatan Darat ABRI yang diberikan Presiden Soeharto kepada Jenderal Wiranto. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa para perwira militer yang tidak berseragam ikut turun ke jalanan dan bergabung dengan massa yang mengamuk, bukannya berusaha menenteramkan massa. Apabila kita kembali merekap sejarah bangsa Indonesia dan melihat kebencian fraksi militer terhadap fraksi komunis dan etnis Cina di Indonesia, seolah-olah sudah dapat disimpulkan bahwa tangan tidak terlihat tadi sebenarnya adalah tangan fraksi militer.
Akan tetapi sebagai warga RI, penulis jelas tidak dapat menghakimi fraksi militer dan ABRI sampai penulis mendapatkan fakta langsung yang membenarkan hipotesis ini, dan melihat kejadian ini sudah lampau, maka penulis tidak memiliki wewenang menuntut pemerintah atau ABRI untuk memberikan kompensasi kepada para korban. Peristiwa yang sudah terjadi lebih dari satu dekade yang lalu ini sekarang hanya meninggalkan bekas pada generasi yang benar-benar mengalami dan menyaksikan kerusuhan ini, karena sebagai generasi ketiga dari generasi korban kerusuhan Mei 1998, penulis sama sekali tidak mengetahui hal ini sampai pembelajaran mengenai sejarah Indonesia mencelikkan matanya saat dia duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana bahkan saat itu, penulis sudah menyadari lampaunya masalah ini dan betapa tidak hal praktis yang dapat dilakukannya sekarang.
Meskipun begitu, sebagai tolak ukur ke depan, penulis berharap kejadian serupa tidak terulang, dan semua konflik dapat diselesaikan tanpa agenda tersembunyi fraksi tertentu atau secara anarkis, apalagi karena RI sekarang sedang menghadapi konflik besar dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang penduduknya telah mendeklarasikan berani untuk mati demi Keraton. Perlu diingat bahwa “menghormati sejarah” berarti “tidak mengulanginya kembali, melainkan mengembangkan sejarah yang baik dengan belajar dari sejarah yang buruk”. Jangan sampai budaya demokrasi modern berdegradasi menjadi gerakan anarkis primitif.