Arsip Kategori: Stories
Mungkin?
Posted by Male
Milla tersenyum kecil. Setengah wajahnya tersembunyi di balik kedua tangannya, namun mata hijaunya memancarkan ekspresi girang yang cukup jelas. Bahkan sebenarnya dia tengah tersenyum lebar hingga gigi-giginya yang terawat baik terlihat di balik kedua tangannya itu.
Di sebelahnya, Erika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sahabat Milla sejak SD itu tahu kalau ada sesuatu yang dirahasiakan Milla darinya, dan sebagai seorang sahabat lama, Erika tahu kalau apabila Milla merahasiakan sesuatu darinya, gadis berambut pirang keemasan itu tidak akan memberitahu Erika sampai Milla merasa waktunya sudah tepat untuk memberitahu sahabat lamanya itu; dan itu berarti Erika hanya akan berdiam diri sampai Milla berhenti memandangi kerusuhan kecil di hadapannya.
Kerusuhan kecil? Ya, di kelas XII-2, sebuah kerusuhan kecil sedang terjadi. Di depan kelas, tiga orang gadis muda lainnya sedang bertengkar. Sophia, yang tampak paling marah dan agresif menyerang; Marsha, yang juga terlihat tak kalah ketusnya meskipun rambut bob-nya yang biasanya rapi terurai kini sudah terlihat kusut dan mengembang tidak rapi; dan Nadhira, yang sedari tadi berusaha melerai dan menenangkan kedua temannya yang sekarang juga terlihat mulai stress menghadapi kedua temannya yang masih beradu mulut – ya, mereka berdua sudah melewati adegan jambak-menjambak yang terjadi beberapa menit yang lalu. Dan tidak seperti SMA lain yang membanggakan diri karena memiliki fasilitas pengawas khusus seperti CCTV, SMA tempat Milla bersekolah itu benar-benar tidak mendapatkan pengawasan dari guru sebelum bel masuk berbunyi. Sekarang masih jam 8.30, berarti masih ada 30 menit lagi sampai bel masuk berbunyi.
Sebenarnya apa, sih, masalah ketiga gadis muda itu? Jawabannya sangat sederhana; sebuah pena – meskipun fakta bahwa pena itu dibuat khusus oleh seorang seniman Italia dan sebuah batu safir disematkan di bagian pegangan pena tersebut mungkin tidak membuat sumber masalah itu terlihat sederhana lagi. Dan pena yang baru dibeli dan dipamerkan Sophia kemarin itu mendadak hilang dari tas Sophia hari ini, dan berpindah secara ajaib ke tas Marsha. Dan kejadian itu langsung memecah “persahabatan” ketiga gadis itu. Memang tidak dapat dikatakan mereka bersahabat – karena selalu bersama-sama bukan berarti bersahabat erat – karena sebenarnya semua orang dapat merasakan atmosfir persaingan untuk memamerkan kekayaan mereka masing-masing di antara ketiga gadis itu.
Dan sekarang, atmosfir itu memuncak ketika Marsha “mencuri” pena Sophia, dan Milla hanya tertawa kecil ketika Nadhira ikut dongkol karena kedua temannya tidak mau membicarakan semuanya dengan tenang dan anggun.
Tidak dapat menahan tawanya, Milla segera pergi meninggalkan kelas. Dia tidak menyangka kejadian kecil seperti itu bisa menyebabkan kerusuhan seperti ini bagi ketiga gadis yang kurang disukainya itu. Milla adalah putri seorang direktur perusahaan eksportir kerajinan kayu dan batu khas Norwegia, dan dia tidak pernah kekurangan uang untuk berbelanja barang-barang mahal seperti itu. Namun pernahkah dia memamerkan sedikitpun dari kekayaan orang tuanya itu? Tidak; dan karena itulah Milla memberi mereka pelajaran.
Benar, Milla lah yang “mencuri” pena itu. Sebagai seorang penari dan atlit terjun indah, Milla memiliki kelenturan yang cukup untuk memanjat dinding pembatas rumah Sophia yang kebetulan berada tepat di belakang rumahnya. Dan dengan kelenturannya itu juga Milla dapat memanjat ke dalam jendela kamar Sophia dan mengambil pena yang diletakkan tanpa pengawasan di atas meja rias itu, lalu melompat keluar dan kembali ke rumahnya tanpa diketahui oleh penghuni rumah Sophia. Keesokan paginya, Milla jugalah yang meletakkan pena itu di dalam tas Marsha ketika gadis itu sibuk memamerkan kalung baru pemberian pacarnya. Dan sekarang, Milla lah yang menikmati kemenangannya tanpa disadari oleh ketiga gadis itu, yang sekarang sudah mulai ribut sendiri.
Di koridor, Milla kembali melirik jam tangannya. Lima menit sudah berlalu sejak Milla melirik jam yang sama, dan itu menandakan ketiga gadis muda itu masih punya sekitar 25 menit lagi sebelum guru Biologi mereka masuk ke ruang kelasnya; 25 menit lagi untuk menertawakan kebodohan ketiga gadis muda itu.
“Hei!”
Sebuah suara mengejutkan Milla yang segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pemuda berambut gelap tengah menatap gadis berambut pirang itu. Johann, nama pemuda itu, membenarkan letak kacamatanya dengan jari telunjuknya lalu kembali menatap Milla dengan tatapan yang cukup kompleks – menuduh tetapi hangat.
“Kau tahu sesuatu mengenai kasus itu?” tanya Johann lagi sambil mengendikkan kepalanya ke arah ketiga gadis yang sekarang sudah mulai memaki dan berteriak satu sama lain. Pemuda itu juga menyandarkan punggungnya pada dinding dan melipat tangannya di depan dada. Jelas terlihat kalau pemuda itu menantikan jawaban, namun Milla hanya tersenyum kecil kepada Johann dan membelai rambut pirangnya ke belakang, membiarkan angin meniup surai-surai keemasan itu ketika gadis bermata hijau itu bersandar pada dinding koridor yang lain; berhadap-hadapan dengan si murid pindahan dari Jerman.
Keheningan yang canggung dengan cepat memenuhi atmosfir di sekitar dua remaja itu, dan Milla yakin kalau dia sedang berhadapan dengan murid biasa, pasti murid itu sudah undur dari hadapan Milla sekarang; namun dia berhadapan dengan Johann, dan entah mengapa, Johann hanya bergeming seperti patung di hadapan Milla, memaksa gadis itu untuk memecah keheningan, yang dilakukannya setelah tergelak kecil setelah menyadari bahwa pemuda bermata coklat di hadapannya memang tidak bisa diremehkan.
Jadi, dengan wajah yang merona dan bibir yang tergigit, Milla meringis, “mungkin?”
Sihir Alam
Posted by Male
Indira menarik nafas dalam-dalam, dan terbatuk-batuk saat asap rokok yang mengotori udara menggantikan udara bersih di dalam paru-parunya. Dia mengusap matanya yang mulai berair dan menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.
Rutinitas sangat membebaninya. Dari jam lima pagi dia sudah duduk di bangku kereta yang keras. Bangku itu akan dia duduki hingga dia sampai ke Gambir dan melanjutkan perjalanannya melintasi kota Jakarta ke sebuah perusahaan percetakan, tempat dia bekerja sebagai seorang asisten editor.
Indira kembali terbatuk-batuk saat seorang pria yang umurnya mungkin sudah setengah abad kembali menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. Kesal tapi malas untuk menegur, Indira memutuskan untuk membuka jendela dan merasakan hembusan angin sepoi pada wajahnya yang letih. Akan tetapi suasana lalu lintas Bogor yang macet sangat mengecewakannya. Alih-alih merasakan sejuknya hembusan angin, Indira malah mengernyitkan keningnya ketika asap knalpot kendaraan yang berjejalan di jalan menghambur masuk ke dalam indra penciumannya.
Indira benar-benar letih. Dia butuh ketenangan, dia butuh relaksasi, dia butuh hiburan; dan hiburan itu hanya akan didapatkannya pada akhir pekan. Tidak penting memikirkan tempat yang akan dituju nanti, pikirnya, aku akan pergi ke manapun aku suka.
Udara yang begitu panas memaksa Indira mengambil botol kecil yang hanya terisi seperempatnya. Dibukanya tutup botol itu dengan tergesa-gesa, dan ditenggaknya air yang tersisa sampai habis; akan tetapi dahaga itu tidak hilang. Indira memasukkan kembali botol kecil yang sudah kosong itu, dan berbalik menghadap jendela sembari melepas pikirannya ke langit sore.
“Indira!”
Sahutan itu menyentakkan Indira. Siapa yang mengenalnya di tengah kemacetan ini? Dengan sedikit kalap dia melempar pandangannya ke berbagai arah, tetapi matanya tetap tidak menangkap orang yang tadi memanggilnya. Bahkan Indira tidak mengenali suaranya.
“Indira!”
Lagi-lagi suara itu memanggilnya. Indira sendiri merasa sedikit takut. Dia kurang suka kejutan, karena kebanyakan kejutan berakhir naas pada dirinya. Dia masih ingat sewaktu SD tidak ada seorang pun teman sekelasnya yang masuk kelas. Setelah dia cukup panik karena guru sudah berjalan ke kelasnya, teman-temannya menghambur ke kelas sambil menyanyikan lagu “happy birthday” dipimpin oleh ketua kelasnya yang membawa sebuah kue blackforest. Kejutan yang manis, memang, kalau kejutan itu tidak berakhir dengan terlemparnya kue itu ke wajah Indira karena sang ketua kelas terpeleset.
Masih banyak kejutan yang tersimpan di dalam memori Indira yang bisa dikenangnya dan ditertawakannya, kalau saja sekarang Indira tidak merasa terancam. Dia merapatkan pegangannya pada tas gendong yang dibawanya, dan melangkah turun dari angkot yang berhenti bergerak di atas aspal panas karena kemacetan, lalu mengambil uang Rp 2.500, – dari dalam tasnya.
Tiba-tiba sebuah tangan kecoklatan yang kekar merintang entah dari mana ke arah supir angkot yang sedang menunggu. Supir itu mengambil uang yang disodorkan tangan itu, dan kembali menekan klakson.
Indira segera menatap pemilik tangna kecoklatan itu. Dia adalah seorang pria berambut pendek yang kulitnya juga sama coklatnya dengan tangannya. Wajahnya terlihat familiar di mata Indira, tetapi dia masih tidak ingat nama pria tersebut.
“Hei, Indira, masih ingat aku?” pria itu menanyakan pertanyaan mautnya.
Indira gugup, dia menelan ludah dan memaksa memorinya bekerja dua kali lebih keras untuk menemukan identitas lelaki kekar di hadapannya. Diamatinya kaos abu-abunya, celana panjang jinsnya, hingga sepatu kulitnya; berharap sebuah tulisan akan muncul dari sana untuk menunjukkan kepadanya siapa nama pria itu.
Pria itu tersenyum kecil saat Indira masih bingung mencoba mengingatnya. Dengan ramah pria itu meraih tangan Indira dan membawanya ke trotoar. Indira ikut saja, dia tidak merasakan ancaman dari genggaman tangan pria itu. Dia merasakan kehangatan yang lama telah meninggalkannya. Akan tetapi dari siapa?
Sesampainya di trotoar, pria itu menatap Indira dalam-dalam, membuat wajah Indira merona merah. Ketika Indira berpaling, pria itu angkat bicara.
“Ini aku, Bayu,” katanya dengan suaranya yang sedikit serak.
Indira langsung menatap Bayu dan memorinya dengan cepat menunjukkan berkas dengan nama Bayu Prabowo. Saat itu juga, semua kenangannya tentang berbagai kejutan yang telah dialaminya – yang kebanyakan berakhir kacau – melanda benaknya. Dia ingat. Dia ingat sekarang. Di dalam semua kejutan itu,; semua kekacauan itu, Bayu pasti selalu berdiri di depan. Pasti selalu dia yang mengacaukannya. Dia heran kenapa dia tidak teringat akan Bayu, teringat akan semua kejutan yang pernah dirancangnya.
“Sekarang kamu sudah ingat, kan?” tanya Bayu sambil tersenyum.
“Ya, aku sudah ingat,” jawab Indira mantap sambil tertawa kecil.
“Nah, kalo gitu, sekarang aku ada di sini untuk…?”
“Hmm – mungkin – kejutan?”
“Haha, kalau sudah tahu, ayo ke mobilku!” ajak Bayu sambil menunjuk mobil yang terparkir di sisi jalan di ujung barisan kendaraan yang terjebak macet.
Indira dan Bayu pun segera pergi ke mobil merah tua itu, masih bergandengan tangan.
-o-o-o-
Sepanjang perjalanan, Indira tidak membuang-buang waktu. Dia membombardir Bayu dengan pertanyaan tentang kehidupannya setelah SMA, pekerjaannya sekarang, dan banyak hal lainnya, yang hanya dijawab Bayu sekenanya, seperti, “aku kuliah di IPB…,” atau hanya dengan senyuman penuh arti. Terkadang Bayu juga tidak merespon pertanyaan-pertanyaan Indira. Akhirnya, Indira sendiri kehabisan pertanyaan dan terpaksa terdiam dan mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.
Mobil Bayu meluncur santai menembus padatnya lalu lintas kota Bogor tanpa suara. Benar-benar tanpa suara. Indira sendiri heran, kenapa mobil yang lumayan besar ini sama sekali tidak bersuara. Bayu hanya menjawab kalau dia sudah mengganti mesinnya saat Indira bertanya kepadanya.
Tiba-tiba, mobil Bayu menepi di dekat pintu masuk istana Bogor, di depan gedung gereja Zebaoth. Indira menatap Bayu heran, akan tetapi Bayu hanya mengambil sebuah tas kecil dan menunjukkan sebuah kain penutup mata berwarna hitam.
“Ow, kamu tidak akan menyuruhku memakainya, kan?” tanya Indira.
“Haha, tentu saja kamu harus memakainya. Kalo ngga, di mana kejutannya?” jawab Bayu sambil terkekeh.
“Kamu serius?”
Bayu mengangguk mantap.
Indira mendesah pelan dan berkata, “baiklah, tapi jangan lama-lama, ya? Kamu tahu aku kurang suka gelap.”
“Haha, sebentar lagi gelap, koq,” timpal Bayu sambil menutup mata Indira.
Dan memang jam pada dashboard mobil Bayu sudah menunjukkan pukul 18.40 WIB.
-o-o-o-
Setelah menutup mata Indira, Bayu menjalankan mobilnya lagi ke pintu A Kebun Raya Bogor. Dia melangkah turun dan menunjukkan KTP-nya kepada kedua satpam yang sedang berjaga dan saat itu juga kedua satpam itu segera membuka pintu dan mempersilahkan Bayu masuk. Bayu tersenyum puas dan melirik ke langit sore yang mulai menggelap, sesaat sebelum dia masuk ke dalam mobil.
-o-o-o-
“Hei, sudah sampai belum?” tanya Indira yang sudah mulai panik.
“Haha, sudah, sudah. Ayo, sini kutuntun,” jawab Bayu santai.
“Hah? Masih perlu dituntun? Memangnya tempatnya sejauh apa?”
“Sudah, ayo ikut,” kata Bayu lagi sambil membuka pintu mobil dan menuntun Indira turun.
Mereka berdua berjalan seperti pasangan yang canggung. Bayu terlihat bersemangat, sedangkan Indira terlihat sedikit pucat sambil meraba-raba jalan di dalam kegelapan – yang tentunya tidak diperlukan karena Bayu menuntun setiap langkahnya. Setelah berjalan memutar dan menuruni tangga beberapa kali, akhirnya pasangan itu berhenti di bawah sebuah pohon, di dekat tunggul yang telah dimodifikasi menjadi sebuah kursi.
“Oke, duduk di sini,” kata Bayu.
Indira menurut. Bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa dia lakukan?
Dan tanpa menghitung dari satu sampai tiga, ataupun memberi aba-aba atau peringatan, Bayu membuka penutup mata Indira. Beberapa detik yang singkat terbuang untuk pembiasaan mata, dan Indira langsung terperangah melihat kejutan yang sudah dipersiapkan Bayu kali ini.
Pohon besar di hadapannya menyala kehijauan di bawah gelapnya langit malam. Cahaya temaram dari setiap lentera plastik yang tergantung di setiap cabang pohon itu seolah-olah menghisap cahaya kuning dari lampu-lampu mobil di luar kebun raya. Pohon itu seolah-olah memancarkan aura gaib yang menghipnotis semua pemandangnya. Membisukan mereka dengan cahaya hijau temaram yang selalu bergerak, membuat bayangan-bayangan setiap cabang yang saling menimpa satu sama lain, menimbulkan kesan kalau pohon itu bernafas. Pohon besar itu hidup dan bergerak dalam gerak lambat. Rerumputan di sekitarnya pun bergoyang sesuai irama tarian cahaya hijau dari pohon itu dan kolam di belakangnya memantulkan cahaya hijau yang lebih gelap dan magis seiring berjalannya malam. Jika orang ingin melihat alam Yggdrasil, mungkin mereka bisa puas setelah melihat pemandangan ini.
Indira sendiri jatuh terduduk di hadapan pohon itu. Setitik air matanya mengalir, bukan karena dia mengantuk ataupun letih, melainkan karena hati kecilnya tersentuh oleh pemandangan ini. Pemandangan yang tidak akan dilupakannya seumur hidupnya. Dia sedikit menyesal meninggalkan tasnya di mobil Bayu. Jika dia membawanya, mungkin pemandangan ini akan diabadikannya melalui kamera ponselnya.
“Ngga perlu menyesal. Sihir alam hanya bisa dirasakan melalui keajaiban waktu dan indera manusia, bukan dengan gambar statis yang hanya bisa merekamnya selama sepersekian detik. Nikmati dan lupakan semuanya,” kata Bayu pelan.
Indira menoleh untuk melihat Bayu, akan tetapi yang dia temukan hanyalah ponselnya yang sedang terhubung dengan ponsel Bayu. Bayu telah menyalakan fitur loudspeaker sehingga tadi Indira mengira dia masih ada di sana.
Indira tersenyum dan mengambil ponselnya. Dimatikannya fitur loudspeaker dan didekatkannya ponsel itu ke telinganya. Setelah membasahi tenggorokannya dengan ludah sekadarnya, Indira berkata, “Bayu, makasih banget, ya. Ini keren banget.”
“Haha, tidak apa-apa. Jangan lupa kado ulang tahunmu kuletakkan di bawah pohon itu. Masalah pohonnya, ini adalah kado dari teman-teman kita semasa SMA,” jawab Bayu yang sedang mengemudikan mobilnya keluar Kebun Raya.
“Hahaha, baiklah, akan kuambil nanti…”
“Kalau begitu, happy birthday, Indira,” potong Bayu sebelum menutup panggilan tersebut.
Indira hanya bisa tersenyum saat panggilan itu tertutup. Sekali lagi dipandangnya pohon besar itu dari ujung atas sampai ke akarnya yang kokoh, lalu ditariknya udara malam yang sejuk dan bersih ke dalam paru-parunya. Saat dia menghembuskannya, dia tahu kalau sihir ini tidak akan dilihatnya lagi, akan tetapi Bayu telah memberikannya arti dari perhentian yang sesungguhnya. Matanya mulai terasa berat dan udara dingin menusuk tulang, tetapi Indira hanya duduk dan tersenyum menatap pohon besar yang memancarkan cahaya kehijauan yang dinamis. Kejutan ulang tahun yang manis dari cinta monyetnya.
___
My First Short Story ![]()
Inspired from the Headline: “A Woman Died in A Weird Forest Fire in Belarus”
)